Ada satu yang kupahami, akhirnya,
ketika kaki memilih untuk mengangkat diri,
lalu pergi.
—memangku ransel tak berisi,
—menjinjing harap larut dalam mimpi.

Bahwa ternyata,
Singkat cerita bukan berarti sia.
Sekejap waktu tak sama jemu.

Karena cerita yang terkukir antara ketidaktahuan dan keingintahuan
adalah bayang yang penuh percaya dan harapan.
Sementara perpisahan yang mereka ciptakan,
Tak melulu soal kesedihan.

Maka satu yang kupahami, akhirnya,
bahwa ketika kosong mengetuk hati untuk bertanya,
maka meng-kosong-kannya adalah jawabnya.
Dalam sepi yang ramai,
dalam pelarian hati menyemai.

-ast-
Pku, 200916
*serpihan hati di Desa Gema #kenduripuisi4

Iklan

6 pemikiran pada “Menjejak Hati Dalam Pelarian

        1. nggak gituuu.. jad sebelumnya itu udh eneg duluan, pas buka blog langsung muntah.. sama kek klo lagi mual, trus dikasih kantong plastik.. keluarlah semua isinya kan? hahaha.. jadi idenya emg udh ada sebelum blognya dibuka.. gituu… :”

          Suka

❣ Chit-Chat ❣

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s