soal kata-kata yang datang terlambat–

Hai…
Kita di sini sekarang.
Menyatukan diri pada alam.
Tapi pada hujan,
membatin dan protes, “Argh! Kau menggangu acaraku!”

Padahal sejatinya,
Hujan juga sedang berpuisi.
Ia dan bulir-bulir beningnya,
sedang menyairkan kata-kata
tak terdengar.

Halo…
Coba lihat!
Gelap kadang menyebalkan, ya kan?
Apalagi ketika yang kau harap
adalah terang.
Tapi,
Hei!
Lihat dulu…

Awam hitam itu,
juga ingin ikut berpuisi.
Mereka tahu ada kita di sini.
Dan mereka ingin dengar,
kata-kata yang meluap ke atas sana.

Sejatinya, mereka pun juga sedang berpuisi, sih.
Coba dengar…
Dengar!
Gemuruhnya itu caranya memuisikan kata-kata.

“Woarrrrrrrrrgh!!”

Puisi amarah pada manusia.
atau cinta
pada manusia.

Kau bilang alam Rimbang Baling ini indah, kan?
Ya kan??

Maka bukan hutan di belakangku,
atau sungai di sampingmu saja, Sayang..
yang ingin dipuisikan.

Hujan dan Awan pun bagian cerita cinta alam
yang indah.

Ya, indah..
coba lihat semenit saja!
Lalu dengarkan.

Kalau aku?
Tiga puluh menit.

–Tiga puluh menit kita di sini. Terlalu banyak bicara. Dan mereka benci harus s’lalu mendengarkan. Tanpa di dengarkan.

Karena alam Rimbang Baling,
juga ingin berpuisi.

-ast-
Pku, 250916

Iklan

❣ Chit-Chat ❣

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s