Soal pertemuan sebelumnya–yang kata Semesta, “Nanti saja.” Dia membuatku bertanya-tanya, “Bagaimana kalau saat itu, langsung saja?” Aku benar-benar penasaran bagaimana jadinya. Karena waktu itu ada ada keinginan. Kesengajaan yang kuharapkan. Maka, apa jadinya jika, “Sekarang saja.”?

Aku bahkan menolak, setelah akhirnya tertolak. Aku tidak ingin, kataku. Aku hanya ingin memeluk selimut bersama bantal dan gulingku. Bangun ketika Matahari telah tinggi. Lalu, seperti biasa, bertanya polos pada Ibu, “Masak apa?” Karena aku enggan. Selalu ada rasa yang berkata sama. Aku hanya takut. Maka, apa jadinya kalau, “Tidak usah saja.”?

Lalu Ayah bosan. Melihatku sendiri terpojok bermain bersama kucing-kucing itu. Lalu dia mengusirku. Mendorongku jauh. “Biarkan kami berdua!” seolah begitu bahasanya. Aku kecut. Berusaha sanggup. Lalu melangkah pergi.

Ingin itu di antara ya dan tidak. Maka ketidaksengajaan muncul di sana. Keberadaanku diambang ketiadaan. Aku mencoba menghilang. Sementara kau terus berlalu lalang. Aku penasaran. Dan kau datang. Lalu aku terperangkap. Kau ajak kupulang.

Tapi aku lupa jalan pulang.

-ast-
Pku, 260916

 

Iklan

2 pemikiran pada “Tak Sengaja

❣ Chit-Chat ❣

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s