Jadi biarkan aku menumpahkan air yang telah lama mengisi wadah ini. Tidak, tidak akan seperti biasanya. Kali ini tumpahannya akan jelas mengarah kemana. Dan bermuara di tempat semestinya. Paling tidak itu yang kuharapkan dan ingin kubuktikan.

Aku hanya tak habis pikir. Waktu begitu banyak menyodorkan hal-hal di luar daya tangkapku. Dia memperlihatkan apa yang tak ingin ku lihat, meski memang sudah seharusnya ku lihat. Tapi kesalnya, dia membiarkanku tercengang tanpa memberikan penjelasan. Pengarahan? Hanya ada di buku teks, katanya. Ini hidup. Yang akan terjadi, ya terjadi saja. Tidak ada pembuka. Hanya akan ada kesimpulan.

Maka aku benar-benar tak habis pikir. Ketika apa yang terjadi menggiringku pada kesimpulan untuk akhirnya mencoba tidak menjadi seperti mereka, Waktu justru memuntahkan masalah baru. Katanya, jangan sombong. Menjadi diri yang bukan apa-apa dan tak bisa apa-apa itu namanya bunuh diri. Maka terjunlah ke sana. Lihat, dan jadilah seperti mereka. Dan kau tahu? Aku bingung. Sejak kapan dia memberikan wejangan seperti itu? Bukankah ini bukan buku teks? Lalu, apa perlu aku menciptakan kesimpulan untuk menutup apa yang telah dibukanya?

Waktu seperti sedang mempermainkan semesta-ku. Meski memang, dia sangat mencintai permainan. Pun aku. Tapi kesalnya, permainannya begitu memuakkan karena aku tak pernah bisa menang darinya. Katanya, kalau kau menang, duniamu berakhir. Lah? Bukankah justru kalau aku kalah maka game over? Ini bukan Playstation, katanya. Yang kalahlah yang bertahan. Yang bisa melanjutkan langkah menuju kesimpulan-kesimpulan. Sebanyak apa kesimpulan yang terciptakan, sebanyak itu pula nyawa yang akan digenggam ketika ia menang. Kau mengerti? Ya, sejenis bekal untuk kematian. Kematian yang menghidupkan permainan baru nantinya.

Maka dia benar-benar menikmati permainannya, sementara aku mati-matiannya mencari kemenangan. Kau mau mati? tanyanya. Ya, jawabku. Lalu dia membuatku kalah telak lagi. Yang artinya, semakin jauh dari kemenangan. Semakin mustahil mendekati kematian.

Lalu, ketika akhirnya aku memutuskan untuk menjadi mereka, dia mendorongku ke tepian jurang. Loncat! Katanya. Untuk apa?

“Untuk menemukan dirimu, yang tak seharusnya menjadi mereka.”

Karena menjadi mereka, hanya akan memenuh-menuhi neraka.

Kau paham maksudnya?

-ast-
Pku, 280916

Iklan

❣ Chit-Chat ❣

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s