Ada banyak alasan. Pertama, karena “sudah saatnya memaafkan yang telah lalu agar bisa menatap masa depan tanpa sendu”.

Tahun-tahun terakhir kuliah dulu, memang masa-masa mendendam pada kata. Karenanya, aku mencaci diri di saat ada banyak orang yang berusaha mengasah diriku. Bayangkan, orang-lain-yang-mencoba-mengasah-ku. Tapi sombongnya diri rupanya membungkam kebaikan yang pada dasarnya selalu dan akan terus ada. Maka, kata-kata menjadi musuh bebuyutku, dan kubiarkan karat menumpulkan otak dan jemariku, meski di pertengahan 2015 aku berhasil lulus karena dan bersama kata-kata.

Dengan memaafkan diri yang pongah terhadap kata, dan caci yang menusuk diri sendiri, dan tatapan tajam yang justru menumpulkan hati, maka kata kembali menjadi teman untuk saat ini. Paling tidak, bersama diri sendiri dan kata-kata, bisa membersamai detik ini meski dengan sendu, tapi tidak kelabu.

Kedua, karena “ada rasa rindu yang dibunyikan kata-kata”.

Tentang peristiwa rasa dan pikir. Khayal dan faktual. Adalah apa yang membuat penuh, di saat hati muak membersamai kata hanya demi menafsirkan mereka–dunia nyata dan imaji. Menekan rindu sudah kulakukan dua tahun belakangan. Karena merapalnya hanya akan menambah segudang rindu dan salah paham. Kadang apa yang ingin diucapkan justru tidak tersampaikan. Maka, pikirku saat itu, lebih baik diam. Karena dengannya justru banyak hal yang bisa terkatakan.

Tapi, meski diam adalah kumpulan kata yang kekal, dan tempat bahasa melabuhkan diri, tetap saja hati minta dilegakan. Caranya? Ya membunyikannya dalam bentuk apa pun. Jadi, bunyi-bunyi yang terpupuk rindu itu menumbuhkan batang jutaan rindu lainnya yang minta dipeluk sembari menunggu pagi datang. Teman malam yang setia, ya, mereka… diri sendiri dan kata-kata–lawan yang berkawan.

Dan, sudah tiba lagi saatnya, “bicara soal hati.”

Kau tahu? Bertahun tertaut justru mematikan hati. Ada yang tidak sehat ketika semua terlihat lebih “baik-baik saja”.  Bicara soal hati bukan lagi perkara gampang! Semua membuyar dan membias. Ntah mana yang bisa dipegang, ntah mana yang akan kabur saat digenggam.  Maka kemampuan untuk mengenal hati sendiri hilang. Lalu ego memilih untuk bungkam. Tanpa disadari, membisukan diri rupanya juga dipengaruhi dan mempengaruhi hati. Bayangkan! Berada di lingkaran yang tak berujung-pangkal. Kau butuh hati untuk menghidupi kata, sementara kata adalah apa yang membuatmu mematikan hati. See?

Maka, ketika segunung alasan diberikan untuk mengotak-atik hati sekali lagi, bersama hati hati baru yang bermekaran, jutaan alasan yang dibuat-buat untuk memusuhi kata akhirnya mengalah. Hati hati baru mengingatkan kembali, bahwa hati butuh nutrisi. Bahkan hati yang sudah mati. Paling tidak, kata-kata bisa menjadi peti matinya, sih.

Jadi, ada banyak alasan, mengapa pages of lalala muncul lagi. Sepenggal bunyi butuh dinadakan. Agar hati bisa menari-nari lagi.

Jadi, selamat menikmati “The Pages of Lalala” dari jemari yang saat ini tak kenal henti. Darinya nanti, cerita soal pejes yang lalu lalu, yang berserakan di laman buku berwajah–halah! facebook I mean–akan dikumpulkan lagi. Duh, cari peer aja, sih!

-ast-
Pku, 031016

Iklan

15 pemikiran pada “Pejes..

    1. kalimat itu kuucapkan kepada orang lain, saat aku memerankan dua sejoli dalam dunia khayal. ceritanya aku nasihatin org itu, eh taunya ketusuk sendiri :” hahaha.

      itulah ajaibnya kata-kata dari alam bawah sadar, seperti mantra, bedanya mereka penerang, ga kek mantra yang identik dengan kegelapan. heuheuu..

      Suka

          1. hahahaha..
            katanya, bahasa sastra itu tergantung dengan siapa yang memaknainya..
            kalo yang dimaksud oleh yang membuat kata sastra itu, merapal mantra adalah mengucap sebuah doa.
            hayo.. wkwkwk

            Suka

          2. yes… akhirnya…
            nyerah juga kamu, wkwkwk
            mengalah itu indah loh, terkadang kita bisa melihat senyum dari kemenangan orang lain saat kita mengalah. 😀
            senang ada teman debat lagi.. hihihi
            udah lama rasanya, jadi kangen sama dia… *kangen debatnya mksudnya 🙂

            Suka

          3. trus kenapa ga kakak aja yg ngalah kalo gitu :’3 *malah nyolot wkwkw xD
            aku juga sedang krisis teman ngasah otak.. untunglah dirimu ada di sini kak.. :” hahaa..

            Suka

          4. (^^) ada saatnya kok aku mengalah…
            mengalah bukan berarti kalah kan…
            lebih untuk sebuah kenyamanan..
            sperti yang aku katakan tadi ” terkadang kita bisa melihat senyum dari orang lain ketika kita mengalah”

            Suka

❣ Chit-Chat ❣

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s