Saat burung-burung memutuskan untuk tidak lagi bernyanyi
bersama angin dedaunan menolak untuk menari.

Hujan masih setia, Sayang.
Dirintikkannya derita yang kusimpan
yang kau genggam.

Karena merduku dikalahkan deru angin, burung marah!
Salah daun yang acuhkan aku,
Aku cemburu!
Ranting berderik mencari perhatian
Yang dapat justru tanah hitam yang basah
dan rerumput yang mulai goyah.

Dia menyimpan berjuta rasa, Sayang.
Sakitnya dihantam jutaan ribu kubik air

yang kau cinta
yang ku puja

Yang torehkan luka.

Hujan masih setia,
Mengisi malam-malam kita yang diam

Aku masih bertanya-tanya,
Adakah aku singgah dan menjadi impian?

Atau hanya aku,
yang tak sengaja luruh
dan jatuh
pada nadamu
yang mengayuh jeritku ke dalam abadi
sang mimpi?

Burung-burung mencoba bernyanyi kembali
Dilihatnya dedaun dan tanah menyatu abadi
Rerumput ditinggal mati
Hujan berhenti
Isaknya habis terkuliti sepi

Hari ini cukup, Sayang.
Rongganya semakin besar tapi dadaku sesak.
Suaramu tak lagi senikmat kali pertama
kudengar desahmu.
Yang tinggal hanya resah gelisah
Memeluk hatiku yang pecah.

Jangan ada lagi hari ini, Sayang.
Sungguh!

Tanpamu aku mati.

-ast-
Pku, 141016

Iklan

❣ Chit-Chat ❣

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s