Katanya jangan tuliskan kesedihanmu di saat sedih.
Maka kukatakan saja,

 
Aku bahagia pernah mengenalmu, menjadi bagian dari hidupmu. Mengisi hari-harimu dulu. Menghiasi sedihmu dengan candaku. Memelukmu dengan cerita-cerita lucuku. Menghiburmu dengan kebodohanku. Dan menggenggam hatimu dengan tatapan rinduku.
 
Aku bahagia pernah bersamamu, menjadikanmu bagian dari hidupku. Membiarkanmu mengisi hari-hariku. Membiarkanmu menghiasi lukaku dengan senyum hangatmu. Memelukku dengan semangatmu. Menghiburku dengan kepolosanmu. Dan menggenggam hatiku dengan kasih sayangmu.
 
Aku bahagia Tuhan memberiku satu waktu untuk memaknaimu dalam hidupku. Aku bahagia Tuhan membiarkanku tahu betapa bermaknanya kau dalam hidupku.
 
Dan menjadi orang terakhir yang sangat ingin kau temui, sebelum kau kembali pada Ilahi, adalah kebahagiaan yang takkan pernah mati.
 
Inginmu itu yang memberitahuku bahwa aku berarti bagimu.
 
Maka tenanglah kau di sana, Sayang..
Di sini aku akan tetap bahagia,
bahagia menjadi bagian dari duniamu.
 
-ast-
Pku, 161016
Membuka lembaran yang sedang saya usahakan tidak-akan-pernah-jadi-usang. Cerita tentang kengerian masa-masa sekolah, yang disiram bumbu manis bin gurih oleh seorang sahabat. Ah, bukan seorang sih, sebenarnya.. Ada banyak kepala, tapi yang satu itu beda harganya. #plak
Cichy…
Seorang gadis hitam manis berbadan kurus ceking. Kecil. Rambut sebahu, hitam kemerahan. Berdahi luas, seluas hatinya. Bersenyum lebar, selebar pandangannya. Bermata besar, sebesar rasa sabarnya. Bertatapan dalam, sedalam keikhlasannya.
Cichy…
Yang memberikan kesan pertama nggak baik pada orang pendengki yang belum mengenalnya, sebut saja… saya. Suka ngikut-ngikutin orang lah. Manja lah. Lebay lah. Lalalalaa lah!. Tapi sukses mengubah semua kesan itu 180 derajat hanya dalam sekali perkenalan.
Bukan suka ngikut-ngikutin orang, tapi sedang mencari cara untuk bertahan. Dia datang dari kota kecil, Perawang. Pindah ke kota Pekanbaru untuk melanjutkan sekolah, SMP. Meskipun tak sebesar Jakarta, tetap ada perubahan besar di kota ini, katanya. Pergaulannya, style anak-anak sekolahnya, cara belajarnya, pelajarannya. Semua berbeda. Maka dengan mendekati orang-oranglah dia bisa mempelajari perbedaan-perbedaan itu. “Cara aku membunuh minder, ya muka tembok dan sumbat telinga. Aku harus bisa setara dengan kalian yang udah tinggan di kota besar lebih lama dari aku. Kalau mindernya aku ikutin, mati aku, De!
Bukan manja, tapi memang lembut hatinya. Ia anak pertama dari dua bersaudara. Usia mereka cukup jauh. Seorang anak gadis yang gagal jadi anak tunggal; berlimpah kasih sayang tapi kesepian, lalu disuguhkan “mainan” agar dia bisa melampiaskan kepedulian. Kasih sayang tidak mengajarkannya kekerasan, kemarahan, desakan, dan segala ion negatif yang membuat pusing kepala. Kesepian mengajarkannya keberartian seseorang, dan sesuatu. Sepi dan sayang menyatu, menumbuhkan peduli yang besar, kokoh dan berdaun lebat. “Kalau bisa dengan lemah lembut, kenapa harus pakai kekerasan? Kenapa harus marah-marah? Kenapa harus ngomel-ngomel? Bukannya lebih enak kalau dibicarakan baik-baik? Diselesaikan dengan kepala dingin dan hati tenang? Nggak capek apa marah-marah terus? Aku ngomong gini karena aku peduli sama ko, loh, De!
Bukan lebay, tapi ekspresif. Tak ada yang perlu disembunyikan. Bahagia? Perlihatkan. Sedih? Utarakan. Kesal? Katakan. Rindu? Sampaikan. Ia tak pernah mau menutupi apa-apa. Karena baginya, justru menutupi apa-apa itu berdampak buruk bagi orang lain. “Ketika mereka tahu, tapi udah telat, itu lebih menyakitkan. Mending langsung dibilang, sambil dikasih pengertian. Susah sih, tapi ya musti begitu. Lebih bikin khawatir kalau udah telat!”
Cichy…
Saya benar-benar mengenalnya saat kelas dua SMP. Sekelas. Sekelas dengan orang-orang asing yang terlalu jauh jaraknya dengan saya, dibatasi dinding yang terlalu tinggi untuk saya daki sendiri. Dan Cichy, dan dua orang lagi, terselip di antara saya dan mereka. Cichy menawarkan tangan kanannya, menarik saya untuk terus maju. Berjalan bersama-sama. Cichy, yang tetap mendorong saya dari belakang, ketika saya merasa lelah berjalan saat masa-masa SMA mulai menerkam kaki-kaki yang melemah.
Cichy…
Sang Selir yang tanpanya, dewi-dewi tak kan pernah ada. Tak pernah ada Raja, tak kan ada Permaisuri. Tak kan ada cerita The Gahyoung Kingdom.
Cichy…
Yang dengan kehebatannya mengubah masker beton menjadi riasan cantik di wajahnya. Yang dengan kepedeannya mengubah sok kenal sok dekat menjadi selalu kangen selalu diingat.
Cichy…
Yang tidak pernah lupa dia siapa, darimana, dan bagaimana. Dan tidak pernah lupa siapa temannya, dimana mereka, dan bagaimana keadaan mereka. Cichy…. selalu yang pertama menghubungi saya, dan yang pertama menyampaikan rasa rindunya. Cichy yang tak pernah melupakan saya.
Dia punya caranya sendiri menikmati hidup. Tapi dia nggak pernah lupa mengajak saya untuk melihat dan merasakan kenikmatan itu. Cichy nggak pernah lupa untuk melibatkan saya. Baginya, ada bagian yang harus diisi oleh saya. Yang harus ada saya. Yang nggak bisa tanpa saya. Yang kalau dikerjakan berdua, akan terasa lebih istimewa. Saya merasa penting dibuatnya.
Dan itu Cichy.
Yang selalu bisa menjadikan seseorang merasa berarti. Yang dengan caranya sendiri, bisa menyemangati, mengajari, menasihati orang-orang tanpa merasa digurui.
Dan itu Cichy,
Yang pada akhirnya menangis di hadapan orang yang menolak bertemu sekian bulan lamanya dengan alasan-alasan klise yang jahat, memohon untuk merelakannya tidur. Tidur dengan tenang.
Cichy yang dengan gamblang mengatakan, “Ade, aku pergi dulu ya.
Tapi tak mengizinkan saya melarang, tak mengizinkan saya membatah. Tak mengizinkan saya menentang Tuhan. Tak mengizinkan saya untuk berkata, “Chy, jangan pergi dulu!”
Cichy, yang dengan air matanya, memeluk air mata saya.
Yang melalui genggamannya yang melemah, memeluk hati saya yang pecah.
“Aku sayang Ade. Makasih udah jadi temanku ya..”
Harusnya esoknya saya datang lagi, dan memeluknya lebih erat lagi.
Tapi Cichy dan Tuhan sepertinya lebih tahu, waktu untuk merasa saling memiliki sudah hampir habis. Dan dia tidak mendesak saya untuk kembali.
Cichy…
Yang ntah sejak kapan dan ntah akan sampai kapan, mengingatnya akan membuat saya tersenyum lebar
dan banjir air mata.
-ast-
Pku, 161016
Iklan

❣ Chit-Chat ❣

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s