Hari sudah berganti.
Dini hari yang kau setubuhi, sudah tak beku lagi.

Amarah mencairkan rasa yang didinginkan fajar
agar tak basi.
Tapi kini ia pucat pasi.

Ampas kopimu membusuk.
Gulamu bahkan tak disentuh semut.

Derai lukamu meneteskan muak.
Memaki senja tempatmu berpijak.

Tunggu habis waktunya.
Pun menyesap kopi beserta serpihan cangkir kaca.
Menelan berkubik-kubik gula.
Berharap pahit berubah rasa.

Tapi tidak untuk yang nyata.

Pahit tak jadi manis.
Sakit tak bisa ditepis.

Gula dan kopimu biarkan menghangatkan fajar.
Biar matayang menusuk cinta  habis ditampar.
Jangan amarah.

Karena senja takkan berhenti memerahkan malam sebelum waktunya bulan menampakkan selendangnya.

Sia-sia saja.

-ast-
Pku, 231016

Iklan

❣ Chit-Chat ❣

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s