Menulis Lagi

“gapapa ntar balik lagi ;-)”

– Bunda, gadis berusia setahun lebih muda dariku, menutup pembicaraan kami. (2017).


Tertanggal 18 Desember 2017, chat wa mengabadikan pembicaraan kami sore itu. Menjelang Magrib, tiba-tiba saja perempuan yang senang menggambar dan pintar menulis itu menanyakan rekomendasi buku padaku. Aku yang sudah bertahun tak lagi memeluk buku, jelas saja kebingungan. Tak ada satu pun buku yang menarik minatku beberapa tahun terakhir ini. Satu dua buku yang kupaksakan untuk kubaca, juga tak kunjung selesai. Jelas, aku mengira Bunda sedang mengolok-olok.

Lu nanya buku ma gua? Udah bertahun gua ga baca buku,” jawabku lengkap dengan deretan emotikon favorit, “😂😂😰”

Image lo buku dan nulis banget, wkwkw.”

Aku menepuk jidat. Entah dari mana datangnya gambaran seperti itu. Mungkin karena dulu aku sangat senang menulis. Menulis apa saja. Aku bahkan sampai memiliki empat situs blog. Dua di antaranya adalah situs tumblr yang sampai sekarang entah apa saja isinya. Image buku itu, mungkin muncul karena rak buku di kamar kosku penuh dengan buku—buku-buku yang kubawa dari rumah. Buku kesayangan. Buku yang sukses menarik perhatian dan menumbuhkan minat bacaku. Dulu. Ditambah lagi tak jarang aku membagikan foto-foto kondisi rak buku di rumah, ke jejaring sosialku. Sudah pasti orang-orang pasti mengira aku sekeluarga senang membaca buku. Padahal, hanya dua di antara tujuh orang anggota keluarga kami yang memang tergila-gila dengan buku. Dan dua orang itu, tak termasuk aku. 😂

Buku dan menulis. Dua hal yang sedang tidak begitu dekat denganku, setidaknya saat Bunda mengirim pesan itu padaku. Bagiku saat itu, yang paling dekat denganku adalah tanah dan sekumpulan tanaman mengenaskan yang terpaksa rela diurus dua tangan yang tak pernah bertani—sengaja tak kugunakan kata “berkebun”, karena kalau diingat-ingat, membantu Nenek menyabut rumput dan menyiram bunga, termasuk kategori berkebun, kan? 😂 Atau, yang paliiiiiing dekat lainnya adalah…. kasur dan…. online. Dua hal yang sudah memelukku erat, sejak dunia digital merambah seluruh dunia, dan masa SMA menjadi masa paling ga mengasyikkan! #malahcurhat #ehemanglagicurhat.

Bunda tak membiarkanku lama menunggu jawaban. Lima menit kemudian, balasan sekaligus jawaban dari tanda tanya besar seputar image itu, datang.

Dari fb dan ig yang selalu berisi postingan tulisan, dong.”

Aku menepuk jidat sekali lagi. Benar, kan, kataku? Aku sendiri yang membentuk image itu.

Sekarang kan udah nggak. 😰 Blog gua aja udah gua close. Ngahaha…

Blog? Wew. Kok bisa?”

Bunda adalah salah satu fans-fanatik-rahasia-ku. Dan aku adalah fans-fanatik-nyata-terang-terangan untuk setiap karyanya, gambar ataupun tulisan. Ga heran dia sampai bilang, “wew’. Sudah pasti dia bakal kehilangan bahan bacaan ga berfaedahnya, kan? Dan kenyataan ini pasti mengguncang relung hatinya—Well.. dia pasti bakal komen, ‘geli gue, Taw’ saat nanti tulisan ini sampai di chat wa-nya.

‘Kok bisa?’, ya…

Ya bisalah. Saat ini aja, aku bisa membukanya lagi. Ga menutup kemungkinan suatu saat nanti akan kututup lagi. Lalu kubuka lagi. Kututup lagi. Ini sudah ketiga kalinya blog ini dibuka tutup oleh pemiliknya yang labil. Dan alasan setiap penutupan sama: lagi anti sama tulisan-tulisan.

Minder. Itu aja, sih, sebenarnya.

Ada banyak orang di sekelilingku yang juga senang menulis. Termasuk Bunda. Setiap membaca tulisan mereka, akan membuatku teringat tulisanku sendiri. Dan di saat bersamaan, aku akan merasa, ‘sampah banget gue!‘ Meski aku pun tahu ini normal, tapi, waktu itu aku benar-benar sedang berada dalam posisi paling muak dengan tulisan…. ku sendiri. Sampai terpikir untuk menghapus semua tulisan yang sudah kutulis (kembali) sejak 2013 lalu. Untung saja blog ini baik hati, memperlihatkan cara lain melenyapkan tulisan-tulisan itu dari mata dunia tanpa menghapusnya: disimpan ‘private’ ajah. Begitulah, mengapa tulisan ini menjadi satu-satunya tulisan yang bisa dilihat—selain basa-basi tentang diri ini–padahal umur blog ini sudah 8 tahun.

Agak lama balasan darinya datang. Mungkin Bunda syok, atau memang sedang sibuk. Seingatku, aku juga tak terlalu memikirkan tentang tulisan-buku-dan blog itu lagi setelah dua jam balasan dari Bunda tak juga muncul. Sampai akhirnya ponselku berdenting, dan wa dari pecinta biru itu muncul.

Nanti balik lagi 😉” katanya.

Aku mencoba meyakinkan bahwa yang masih mungkin akan kutulis hanyalah caption intagram, yang isinya hanya aku dan Tuhan yang paham. Tapi lalu, Bunda membalas,

Gapapa, ntar balik lagi 😉

Dan di sini aku sekarang. Menulis. Seperti perkiraannya, 83 hari yang lalu.


Lo emang sesuatu, Bun!

 

Pekanbaru, 15 Maret 2018
-ast-

Iklan

7 Comments

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s