Hi, Mr. Tom! #1: Ingatan

Aku mengotak-atik isi kepalaku. Mencongkel-congkel sudut kenangan yang menyimpan cerita tentang kita. Aku menemukannya. Jelas saja. Karena aku memang ingat dimana memori itu berada. Pun, sebenarnya, aku sudah hapal betul ceritanya. Hanya, aku tak menemukan kata, untuk menceritakan kembali pada dunia apa yang sudah dilukiskan Semesta di masa lampau, tentang dua orang asing yang tak lagi asing hanya dalam hitungan detik.

Aku ingat, sore itu gerimis tak mau berhenti barang sejenak. Dia tak mau membiarkan kita cukup basah oleh air sungai yang mendingin… padahal kata mereka, Sungai Subayang berair hangat. Sore itu, kita sama-sama tahu, hujan dan mendung menjadikannya cukup mampu membuat tubuh-tubuh anak kota itu menggigil kedinginan. Dan gerimis awet yang tersisa pun ambil peran melenyapkan hangat di sekeliling kita.

Bagaimana mungkin aku lupa? Kamu dengan mudahnya terekam diingatanku. Bahkan berjam-jam sebelum kakiku terbentur kayu yang mengapung di sungai, yang kamu seret sambil berebutan dengan teman-teman yang lain. Bagiku, kamu memegang peranan penting untuk dua hari ke depan. Panitia, apalagi tim perlengkapan, tidak bisa dianggap angin lalu begitu saja. Tempat itu termasuk hutan, ‘kan? Kalau kami butuh apa saja, harus cepat ke orang yang tepat. Salah satunya itu kamu. Orang yang bahkan, katanya, bisa dimintai handuk, kalau memang kami perlu.

Ya, karena handuk itu, nama dan wajahmu langsung tersimpan di memoriku.

Tes… satu.. dua.. tiga…” Suaramu menggema ke seluruh penjuru lapangan perkemahan itu. Siang terik sudah berganti teduh. Awan hitam mulai tampak di sudut barat. Tapi tak ada yang peduli. Aku dan teman-teman yang lain, pendatang sekaligus peserta ini, sibuk mengabadikan diri dan momen. Sementara kamu, dan teman-temanmu, sedang asyik memainkan peran kalian sebagai panitia tim perlengkapan. Memeriksa keberfungsian peralatan pengeras suara. Awalnya kamu memang terlihat sedang serius bekerja, tapi perlahan, mulai berebut memainkan mikrofon bersama teman-temanmu, yang tak satu pun lekat di ingatanku.

Aku ingat, detik itu hati dan mulutku berkata, “pasti dia vokalis.” Entah bagaimana caranya suaramu bisa meyakinkanku bahwa kamu memang orang yang tak asing dengan benda-benda itu; sound system dan panggung. Aku hanya menebak. Aku tahu itu tebakan. Tapi aku tak pernah tahu bahwa tebakan itu akan tepat. Semesta pasti campur tangan.

Aku juga ingat, suara itu membuat perhatian padamu semakin lekat. Mataku mengikuti kemana kamu pergi. Memperhatikan dari jauh apa-apa yang sedang kamu lakukan. Berkejaran bersama anak-anak desa, bermain ukulele dan bernyanyi bersama mereka. Ditegur ketua panitia. Berusaha duduk manis dalam tenda. Namun sejurus kemudian, kembali rusuh berebutan posisi di depan kamera mini sahabatmu. Aku ingat, aku mengikutimu dengan mataku.

Aku mengamatimu dengan sangat sadar saat aku duduk di dalam tenda. Gerimis kedua yang menyambut kedatangan kami ke Desa Gema hari itu mulai turun kembali. Acara pembukaan sudah berakhir beberapa saat lalu. Peserta diberi kebebasan berekspresi sore itu, bebas mau melakukan apa; duduk santai di dalam tenda, atau tidur melepas lelah karena sudah menempuh perjalanan panjang Pekanbaru-Gema, atau bangkit dan menceburkan diri ke sungai dangkal nan jernih di belakang tenda. Aku dan kakakku memilih duduk santai di dalam tenda. Gerimis mulai lebat, dan kami masih malas basah. Di sanalah aku, sedang duduk dan melihatmu berlari ke sana kemari di bawah rinai. Bersenda gurau dengan teman-temanmu, yang mulai kurekam satu per satu.

Mirip Puput, ya?” kataku kepada kakakku. Dia mengiyakan, karena kamu memang mirip dengan teman SD-ku dulu. Si Rusuh dan tak mau diam, yang gondrong dan urak-urakkan. Teman kelahi yang justru jadi teman baik saat sudah lulus SD. Teman yang sering diolok-olok, yang justru menjadi ketua di setiap acara reuni SD kami. Kamu mirip dengannya. Tapi hatiku berkata, kamu beda.

Pelangi muncul di ufuk timur. Membiaskan cahaya senja yang masih diselimuti awan sendu. Langit memang muram petang hari itu, tapi kita, para anak-anak kota dan desa ini tak peduli. Di bawah rintik yang tak mau kalah, kita memperebutkan sebatang kayu besar yang mengapung di Subayang. Dalam dinginnya air sungai, kita tertawa dan bercanda. Kita nikmati setiap sentuhan air jernihnya dengan bernyanyi, bersuka cita. Bermain percikan air. Dan tak lupa bergaya, mengabadikan momen yang tak mungkin bisa terulang. Ya, memang, sore itu tak akan pernah bisa diulang.

Aku ingat, lagu yang kalian nyanyikanlah yang menarik aku dan kakakku keluar dari tenda. Lagu yang kalian nyanyikan yang membuatkan penasaran dan ingin mendengar lebih dekat. Kamu dan teman-temanmu yang di mataku super-kreatif itu, mengapung bersama sebatang kayu besar, dan itu membuat kami ingin mencoba juga. Pasrah membiarkan arus membawa diri, kemana ia ingin pergi. Ya, aku tak bisa lupa, arus yang tampak pelan itu, bahkan bisa menghanyutkan kita semua dan sebatang kayu besat dan berat. Arus bisa menghanyutkan siapa saja.

Aku juga ingat, sore itu, aku dan kamu sesekali diadu Semesta. Kakiku yang terbentur kayu yang kamu seret adalah satu di antara permainan Semesta. Tapi kita tak sadar. Belum sadar, lebih tepatnya. Sampai akhirnya waktu menarik ingatan kita kembali ke hari Sabtu kelabu, yang mempertemukan dua hati yang sedang dalam pengosongan diri.


Loh, ga jadi ganti baju, Kak?

Nggak, ah.. aku mau ikutin Abang, aja… melawan angin dan dingin.”

Nanti masuk angin, loh…”

Wah, nyepelein?

Oke, pacuan kita ya… siapa yang paling kuat?

Oke..!

Aku membalas tantanganmu sambil menunjuk ke arahmu. Berjalan mundur lalu membalikkan badan. Kita lalu berjalan menjauh, saling membelakangi. Kamu ke arah tenda, aku ke arah warung. Aku ingat, aku memaksa hati dan pikiranku untuk tidak bertindak liar, tapi mulutku tak bisa ditahan. Sebelum aku sempat menguncinya, dia sudah melontarkan kata-kata kepada kakakku.

Yak, ada yang kena.”

G-R!” balas Kakak.

Tidak, aku sama sekali tidak GR. Aku hanya begitu yakin, aku seperti sudah memerangkapmu. Padahal, aku sedang tak ingin bermain-main. Tapi aku tahu, perempuan yang balik menantang laki-laki itu punya daya pikat tersendiri. Dan aku terlalu menguasai teknik itu.

Well… ini memang GR.

Tapi toh ternyata keyakinanku itu benar adanya, ‘kan? Pikiranku malam itu menebak, kamu kembali membalikkan badan dan memperhatikanku yang berjalan beriringan dengan Kakak ke warung kecil di pintu masuk bumi perkemahan. Mungkin hatimu langsung jatuh, atau kesal, atau merasa tertantang. Aku tak tahu mana satu yang benar. Tapi aku bisa merasakan kamu memperhatikanku malam itu. Punggungku dingin. Hatiku mendenyut. Aku tahu, aku ingat, Semesta sedari siang, sudah asyik bermain dengan tali-talimu dan tali-taliku.

Aku ingat waktu kamu menyelinap duduk di sampingku. Waktu itu, kita dan teman-teman lain, sedang duduk berkumpul di bangku warung kecil, menunggu jam makan malam. Di antara semua orang di sana, hanya kita berdua yang masih mengenakan baju basah. Aku ingat, kamu mendesakku untuk mengganti pakaian. Sok memberi perhatian, padahal aku tahu, kamu sedang melancarkan serangan agar aku mengalah. Karena kamu tak mau kalah.

Udah, lah… Kakak ga akan kuat. Nanti sakit looh…

Aku menolak. Ya, jelas. Aku juga tak mau kalah. Dan aku memang tak akan kalah. Karena alasanku tak mengganti pakaian basah itu bukan semata sedang bertanding denganmu. Hari masih gerimis, dan aku tak mau membasahi pakaian baru yang hanya ada satu. Ya, ke sungai, dan aku tak membawa baju cadangan lebih banyak.

Kita menarik perhatian dengan baju basah itu. Tapi aku tak begitu memperhatikan apa kata orang, karena perhatianku terarah seutuhnya pada pembicaraan konyolmu dengan sahabatmu itu. Tentang instagram kalian yang pengikutnya lebih sedikit dibandingkan orang yang kalian ikuti. Lalu, kamu memberi ide, bagaimana kalau pengikutnya di nol kan saja, agar jumlah orang yang diikuti bisa lebih banyak. Sahabatmu menyetujui. Sementara aku, pendengar acara lawak kalian ini, sudah sakit perut karena tertawa.

Boleh juga, tuh. Terus untuk apa kita bikin i-ge kalau ga ada yang liat karya kita, Man?!

Lah? Iya juga, ya?

Tawaku pecah di bawah warung temaram itu. Aku ingat, aku langsung merekam kalian berdua: sepaket sahabat yang mungkin takkan kutemukan di tempat lain. Aku ingat kalian dengan pembicaraan biasa yang menurutku konyol dan menggelitik. Dan aku juga ingat, aku lupa merekam respon teman-teman yang lain, yang duduk bersama kita malam itu, yang entah mendengarkan kalian atau tidak, yang entah menyadari kekonyolan kalian atau tidak. Yang entah mengerti lelucon kalian. Atau tidak.


Oke, Kak…, aku akui aku kalah. Aku ga sanggup menahan dinginnya. Dari pada aku tepar. Kan ga lucu panitia tepar, ‘kan?” katamu tiba-tiba. Aku sedang memancing air galon yang tak mau keluar dari pompa galon yang berpipa pendek itu. Tapi aku pura-pura terkejut. Padahal sedari awal, aku sudah memperhatikan kedatangamu ke lokasi makan malam kita; rumah Bang Pendi, salah satu warga Desa Gema. Aku sadar kamu terlambat datang, karena mataku mencarimu. Hatiku bertanya, dimana kamu. Aku ingat, aku tak sengaja mendengar pembicaraan para panitia sebelumnya. Kamu ditugaskan menjaga tenda. Kupikir, kamu benar-benar menjaga tenda. Tapi tak lama, aku melihat sosok yang sudah tak asing lagi di mataku, dan mendengar suara yang sudah tak asing lagi di telingaku.

Yee… kalah…,” seruku.

Nah, sebagai hadiahnya karena Kakak menang, kalau Kakak kedinginan, Kakak boleh pake kemeja yang di sana ya. Pake aja. Aku pinjamin khusus malam ini.”

Yaah.. cuma dipinjemin? Aku maunya untuk selamanya…” naluri menggodaku muncul. Seketika.

“Ye… punya orang itu, mah. Kalau punyaku sih gapapa,”

Aku tertawa, dan geli sendiri. Kamu meminjamkan barang yang kamu pinjam. Ya, kamu pinjamkan itu padaku, sementara kamu meminjamnya dari sahabatmu itu. Hubungan unik apa ini?

Tapi aku ingat, perasaanku waktu itu seketika tidak enak. Aku merasa salah sudah menggodamu. Aku kaget saat mendengar jawaban itu. Aku merasa lancang. Aku canggung. Dan aku mulai takut dan goyah.

Aku ingat, aku secepat mungkin berusaha menetralkan diri dan hati. Aku berusaha tidak peduli. Aku mencoba untuk mengembalikanmu ke posisi sebatas anggota panitia Kenduri Puisi.

Makan malam berjalan hikmat. Semua orang kelaparan, aku yakin. Kegiatan siang itu tak begitu menguras tenaga, tapi berloncat-loncatan di tengah sungai, bukan permainan yang ringan. Ditambah hujan sesekali turun melebat. Udara dingin itu benar-benar ikut campur dalam proses membuat perut terasa semakin keroncongan. Maka, dalam hening yang sedikit gaduh oleh denting piring dan sendok, semua orang makan dengan tenang. Menikmati makan malamnya. Tapi tidak aku.

Aku tak bisa lupa bahwa aku sudah telanjur terganggu. Karenanya, mataku tak berhenti melirik sosok laki-laki yang sibuk menggoda gadis kecil yang, katanya, senang berpetualang itu. Mungkin hanya aku yang sadar, saat ia lengah, kamu minum air yang baru saja diambilnya. Gelas penuhnya dalam sekejap kosong. Saat dia hendak minum dan terkejut, ia bertanya padamu, siapa yang meminumnya. Kamu mengangkat bahu sambil terus menikmati makan malammu. Aku tersenyum. Dan aku ingat, aku sadar aku tersenyum di tengah suapan makan malamku. Tapi aku tak ingat apa ada orang lain yang menyadari senyumku itu. Aku tak ingat, apakah ada orang yang memperhatikanku memperhatikanmu malam itu.

Kurasa, malam itu puncaknya. Tak hanya untuk acara yang sedang kuhadiri itu, tapi juga untuk kita. Puncak dari segala kegaduhan yang timbul karena Si Handuk. Puncak dari rasa penasaranmu padaku karena si Baju Basah. Puncak permainan Semesta di hari pertama kita bertemu.


Hmm.. iyaa.. jadi gitu.. betul tuh… emang begitu…

Kamu tiba-tiba datang dan ikut nimbrung pembicaraanku dengan peserta lain. Mereka bingung. Ada yang tertawa. tapi juga ada yang kesal. Dan aku ingat, hanya aku yang merasa kamu sedang melancarkan serangan. Kamu sedang menarik perhatian.

Aku berusaha cuek. Dan kamu mungkin menyadari sikapku yang mencoba tak peduli. Kamu pergi, bergabung dengan teman-temanmu. Sementara aku kembali pada pembicaraan kami yang tertunda tadi. Aku tidak menggubrismu. Aku juga berusaha tidak terusik dengan kepergianmu.

Tapi tak lama, kamu kembali lagi. Dengan gaya yang sama. Dengan kata-kata yang sama. Kamu menggoda kami lagi. Kamu melancarkan serangan lagi. Aku ingat, ada yang benar-benar kesal, sampai berkata tidak suka. Aku ingat kamu panik. Dan aku pun ingat aku langsung tertawa mencoba memecah ketegangan. Aku ingat, hanya aku yang tak masalah kamu ganggu. Mungkin, hanya aku yang senang malam itu, diganggu olehmu.

Ini punya Kakak?” tanyamu sambil mengambil headlamp dari tanganku.

Bukan.

Oh, terus punya siapa?

Aku menunjuk ke arah kakakku dengan dagu.

Yee.. berarti ini punya Kakak juga lah.

Emang kenapa?

Pinjam, ya?” aku sudah tahu. Kamu butuh penerangan, sementara timmu, sepertinya lupa membawa benda penting ini di alam terbuka seperti ini.

Kamu pergi dan mengurus panggung setelah mendapat izin meminjam headlamp itu dari kakakku, yang seingatku, turut menggodamu. Aku ingat, malam itu aku merasa kakakku sudah menebak ada sesuatu di antara kita.

Nanti, kalau dia datang lagi, kita diam terus perhatiin dia, ya,” kataku mengatur strategi agar kamu tidak balik lagi menggoda kami yang sedang asyik berdiskusi. Mereka setuju. Dan serangan langsung dilancarkan.

Ya, aku ingat, tebakanku tentangmu selalu tepat. Aku sudah mengira kamu akan balik lagi dan lagi dan lagi untuk mencari perhatian. Aku tahu, kamu mau diajak bicara juga olehku, tapi kamu tak punya waktu untuk duduk manis bersama peserta. Dan aku ingat, betapa kamu tersipu malu saat mata-mata kami menatapmu lekat. Aku suka. Dan aku ingat, hatiku mendenyut sekali lagi. Kamu kena. Aku telak!

Lain, ya.. diliatin gitu. Okelah.. kami ka-o!” katamu sembari mengangkat tangan dan berjalan mundur. Taktikku berhasil. Kamu tak lagi datang mendekati kami. Tapi kamu datang kepadaku, berkilah meminjam headlamp, tapi aku tahu, kamu hanya ingin terus datang padaku.

Ya udah sana pegang dulu aja headlamp-nya,” kataku, lama-lama merasa aneh sendiri melihatmu bolak-balik meminjam dan mengembalikan headlamp itu, yang sekarang entah berada dimana.

Ga papa? Gelap-gelapan di sini?

Ga dipake juga. Yang penting jangan sampai hilang aja,” jawabku. Krek. Pionmu patah, satu lagi.

Aku ingat, aku sudah menghabiskan pelurumu. Kamu tak punya alasan untuk balik ke tempatku lagi sebelum pekerjaanmu dengan headlamp-ku benar-benar selesai. Ya, untuk beberapa lama, aku dan peserta yang lain, bisa bercerita panjang, tanpa ada intermezo darimu.


Diiir! Mereka sama sepertiku, Dir! Kabur dari rumah juga!

Aku tercengang, lalu tertawa terbahak. Aku belum mengerti waktu itu, mengapa kamu begitu senang saat mendengar aku dan kakakku baru pulang dari pelarian. Kami mengaku, kami kabur dari rumah. Kakakku pergi empat tahun lebih dulu dariku. Sementara aku menyusulnya dan tak pulang ke rumah selama lima tahun. Dan kamu tak percaya itu. Aku ingat kamu berulang kali mempertanyakan keseriusan kami. Aku dan kakakku bertatap penuh tanya. Kami benar-benar tak mengerti, mengapa kamu begitu antusias mendengar kami juga kabur dari rumah. Sama sepertimu.

Tapi aku tak terlalu memikirkan itu. Seingatku, aku terlalu asyik menggodamu. Bahkan saat kamu menanyakan identitas hubunganku dengan kakakku yang sebenarnya. Siapa kakak, siapa adik.

Atau kalian ini, twins?” tanyamu.

Serentak kami mengangguk penuh semangat.

Seriuslah…

Ga, sih…,” jawabku. Tapi kami tuuuuuuuuuuuuuuuuu…..wins…” Kakak langung mengerti dan mengangguk.

Iya, kami tuuuuuu…wins..” katanya, menambah kebingunganmu.

Kamu kesal, tapi tetap bertahan menunggu jawaban. Sampai akhirnya, kami terang-terangan membuka bahwa kami bukan twins, melainkan hanya sepaket adik kakak yang terlalu mirip.

Berarti… ini kakakknya, ‘kan?” Kakakku seketika terbahak. Ya, aku sangat ingat dia begitu bahagia saat kamu mengarahkan telunjukmu padaku.

Kalau aku kakakknya, terus kenapa dia yang kupanggil kakak?” tanyaku, kesal.

Lah, iya juga.” Kamu berlagak sedang berpikir. Tangan kiri terlipat di depan dada dan tangan kapan menyentuh dagu.

Jadi, mana kakakknya?” tanyamu lagi. Aku ingat, aku serasa ingin menyebutmu, “Dasar oneng!

Aku ingat, selanjutnya kita bermain tebak-tebakan umur. Ya, bagaimana mungkin aku bisa lupa? Kamu orang pertama yang menebak umurku lebih tua dari umur asliku. Sementara semua orang, termasuk teman-teman dalam kegiatan ini pun, mengira aku masih anak sekolah. Hatiku mendenyit, sekali lagi. Dan aku kesal. Tapi aku ingat, kamu pun sekali lagi kutandai. Kamu memang beda.


“Arifin Ahmad, looh… masa ga tahu? Anak Pekanbaru pasti tahu lah…”

Nyatanya aku dan kakakku memang sama sekali tak ingat dimana Jalan Arifin Ahmad berada. Kami benar-benar anak rumahan, yang sejak kembali dari pelarian, tidak pernah keluar rumah, tidak pernah berjalan-jalan ke sana kemari. Tidak keluyuran. Dan tidak menapaki jalan-jalan yang ada di kota itu. Kami di rumah. Setiap hari. Sepanjang waktu.

Tapi aku ingat, tebakanku lagi-lagi tepat. Kamu seorang vokalis. Kamu dan sahabatmu mendirikan band, dan akan tampil minggu depan di salah satu kafe di Jalan Arifin Ahmad itu. Aku ingat, hatiku menjerit ingin melihatmu tampil. Ingin mendengar suara yang membuat dadaku berdegup lebih kencang itu, bernyanyi.

Yaah.. kok ga siang aja tampilnya? Kalau malam kami ga bisa. Kami kan anak rumahan, yang ga bisa keluar malam.”

Dan kamu mulai bernostalgia. Kamu pun pernah sesusah kami untuk sekedar keluar rumah. Tak peduli kamu adalah anak laki-laki, katamu, kamu tetap tak bisa sembarangan keluar rumah. Aku ingat, dari suara dan raut wajahmu, betapa kamu membenci masa lalumu di rumah. Sekarang, saat kita berdiri sambil menunggu api membakar kayu-kayu yang sudah kamu kumpulkan bersama teman-temanmu sejak siang tadi, kamu tampak bebas, dan kamu senang. Kamu bahagia. Tapi aku tak bisa lupa. Kekosongan yang menyelinap di setiap kata-katamu. Aku ingat, bukan hanya suara, nama, dan wajahmu. Tapi rasa tentangmu, membuatku penasaran, dan tak mau jauh darimu.

Puncak acara kegiatan itu selesai. Tapi acara puncak kita belum. Kamu tak henti melempar tanya. Aku dan kakakku pun tak berhenti mewawancara. Kita berbagi cerita sampai kakakku teralihkan oleh peserta lain, lalu disusul lelah. Ia lalu kembali ke tenda sementara adiknya masih asyik berdiri bersama orang asing ini. Aku ingat, kamu dan aku masih terus menggali informasi satu sama lain. Mungkin alasan kita bertahan dengan pembicaraan yang melebar kemana-mana itu, yang berangkat dari kisah-kisah masa lalu kita masing-masing, adalah karena kita sama-sama penasaran. Bagaimana masa depan?


Api unggun membara di tengah-tengah bumi perkemahan Desa Gema. Aku tak ingat kapan gerimis berhenti menangis. Tiba-tiba saja langit sudah cerah. Entah kemana hilangnya awan-awan sendu sore tadi. Bintang mulai berkelap kelip. Dan temaram api unggun seperti sedang berusaha menutup langit dan cahaya-cahaya kecilnya itu. Aku berdiri menatap api. Aku ingat, aku berusaha tidak peduli pada sekitarku. Tapi aku tak bisa lupa, tentang hatiku yang sangat berharap kamu memperhatikanku.

Kita sudah kehabisan amunisi. Kamu kembali pada teman-temanmu, bercengkrama, bermain musik dan bernyanyi, dan berfoto-foto. Sementara aku, saat itu, hanya mengikatkan perhatianku pada api yang turut menari bersama kalian. Sambil berharap, dan terus berharap, ada mata seperti mataku; yang tak lepas memperhatikan orang yang menarik baginya. Yang menarik hatinya.

Ya, malam itu kututup dengan harapan, kamu membalas semua rasa penasaranku sedari siang. Aku tak mungkin bisa lupa, puncak malam itu. Saat aku berteriak, memanggil hatiku yang sudah berhasil loncat keluar, menembus tulang, daging, dan tujuh lapis kulitku. Berlari ke arahmu, Mr. Tom!

Hari itu, 17 September 2016, di Desa Gema, cerita kita bermula.***

Iklan

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s