Cicing #1: Keluarga Kucing

Emak ga terima, waktu Cicing tiba-tiba langsung cerita soal Ciput, yang memunculkan inspirasi menulis Cicing hari ini. Emak memang sudah menyediakan satu rubrik khusus yang isinya tentang cerita-cerita Cicing. Cerita tentang saudara dan anak-cucunya Cicing. Tapi, sepertinya Emak lagi sok-sok jadi kepala redaksi, yang ngasih lahan tapi banyak aturannya #ehgamaksudnyindir

Jadi sekarang, biarkan Cicing memperkenalkan keluarga besar Cicing. Kami adalah generasi kucing masa kininya Emak. Kucing-kucingnya Emak yang dipeliharanya setelah kepulangan Emak dari pelarian. Cicing ga tahu cerita soal nenek moyang kekucing yang pernah tinggal di rumah ini. Cicing juga ga tau apakah Cicing punya hubungan darah dengan kucing-kucing Emak sebelumnya. Kata Emak, ada banyak kucing juga dulu di sini, sejak Emak masih kecil. Tapi tak ada yang bertahan lama dengan silsilah keluarga pasti seperti generasi kami. Kata Emak, dulu itu sekalinya punya kucing, Emak ga mau nambah-nambah kucing lagi. Cukup yang ada di rumah saja. Kucing Emak dulu juga dominan jantan. Makanya, jarang ada anak-anak kucing di rumah. Para betinanya jejantan itu juga ga dibolehin Emak dibawa pulang ke sini. Makanya, keturunan kakek-kakek itu ga tau ada dimana. Dan ga tau juga, apa salah satu di antara keturunan kakek-kakek itu adalah Cicing, Bulek, Kukun, atau Kecut.

 

Kami berempat adalah generasi pertama kucing barunya Emak. Cicing yang pertama kali datang. Waktu itu Cicing dikejar mati oleh si Kukun, kucing berbulu kuning. Cicing dan Kukun, serta satu lagi kucing liar yang Emak sebut si Garong, sukses meluluh lantakkan barang-barang di gudang rumah Emak. Kami bertiga bukannya dilerai baik-baik, malah diusir dan dikejar pake sapu lidi oleh Emak, yang katanya waktu itu lagi ga mau merawat kucing.

Tapi Cicing merasa terlindungi di rumah ini, dari Kukun dan Garong. Maka Cicing datang lagi dan lagi. Ternyata Emak masih suka kucing. Cicing dikasih makan. Tanpa Cicing sadari, di sudut lain, Emak juga ngasih makan Kukun. Si Garong? Dia kucing liar yang jual mahal. Tidak pernah mau disentuh Emak, ga mau tinggal di rumah, dan malu-malu miaw kalo dikasih makan. Emak jadi malas sendiri untuk kasih dia makan.

Dengan diberinya Cicing dan Kukun makan oleh Emak, Cicing dan Kukun berbaikan. Kami mulai berteman, dan memutuskan untuk tinggal di rumah ini saja. Meski sesekali Kukun masih sering menyerang dan mengejar mati Cicing. Kalau sudah begitu, Emak pasti langsung heboh dan ngomel-ngomel.

Saat musim kawin tiba, Cicing kecantol dengan gadis cantik belang tiga. Kukun juga sepertinya juga menaruh hati padanya. Begitu juga si Garong. Kami lalu menjaga si kucing betina itu dengan baik. Lalu, si Cantik itu Cicing bawa pulang. Awalnya Emak ga ngizinin. Tapi lama-lama, Emak membiarkan kucing itu tinggal di rumah dan memberinya nama.

Bulek namanya. Badannya padat berisi. Kakinya kecil dan pendek, tapi tidak sependek kucing blasteran sana. Badannya bantet, tapi begitu cantik dengan rambut warna warninya. Bulek, sama halnya seperti Cicing dan Kukun, diberi makan dan belaian juga oleh Emak. Tapi Bulek sepertinya berbeda dengan Cicing dan Kukun. Kami berdua adalah kucing liar yang memang menolak untuk diperlakukan khusus, tapi Bulek, sepertinya berasal dari sebuah rumah dengan kasih sayang berlebih. Bulek saat pertama kali datang ke rumah kami, bersih dan montok. Dan manja. Cicing cukup prihatin saat dia menerima Cicing dan mau pindah ke rumah ini.

Heh! Maksud ngana apa?!

Ssst! Itu suara Emak. Pura-pura tidur ya kita.

……


Hari berganti dan bulan berubah nama. Bulek semakin gendut dan seksi. Cicing dan Kukun baru tahu dari Emak, kalau ternyata Bulek sedang mengandung. Kami…. termasuk Emak, juga ga ada yang tahu itu hasil kerja keras Cicing, Kukun dan Garong, atau bukan. Tapi kalau kata Emak, anak-anaknya Bulek mewakili sifat kami bertiga.

Cicing dan Kukun menjaga Bulek secara bergiliran. Demi keselamatan bayi-bayi yang sedang menggeliat di dalam perutnya ibu muda ini. Tapi, bukannya berterima kasih, Bulek malah jadi galak. Makannya banyak. Doyan nyakar. Cicing sama Kukun sampe harus jaga jarak sekian meter demi keselamatan diri sendiri. Yang penting, kemana Bulek, kami ekorin.

Emak sempat bertanya, apa itu emang naluri kami sebagai Kucing, atau bukan. Nyatanya, memang begitulah kucing. Kalau betinanya sedang hamil, pasti salah satu jantannya akan menjaganya. Paling ga, duduk manis atau tidur sok cuek di dekatnya. Ini berdasarkan penelitian. Iya, penelitian Emak. Ini Cicing lagi dihipnotis Emak biar pengalaman Emak bisa tertuang di sini juga. 😂 Yaah… aslinya, kami sama seperti manusia lah. Tau juga kalau betina kami juga butuh kasih sayang.

Oya! Cicing hampir lupa menceritakan satu kucing lagi di generasi kami. Kecut namanya.

Dia datang saat masih usia remaja. Usianya mungkin setahun lebih kecil dari kami. Kecut sama sekali tidak mau mendekat, tapi selalu memperhatikan kami di jam-jam makan. Emak berulang kali mencoba mendekatinya, tapi dia justru marah, lalu lari, dan tak lama kemudian kembali, dan dikati Emak, marah, lari, balik, dan begitu terus. Sampai pada akhirnya Kecut memutuskan untuk tinggal di rumah ini saja. Emak senang saat Kecut sudah mau masuk ke dalam rumah. Sudah mau makan bersama Cicing, Kukun dan Bulek. Tapi, Emak tetap kesal, karena Kecut bertahan dengan prinsipnya: tidak boleh disentuh!

Tiba masanya Bulek harus melahirkan. Tepat tanggal 22 Juli 2016, Emak menemukan Bulek masih berdarah-darah habis melahirkan. Ada empat bayi mungil yang lahir waktu itu. Wajar aja Emak sampai tau kalau mereka itu anaknya Cicing, Kukun dan Garong juga. Lah, dari warnanya aja keliatan.

Ada dua kucing berwarna putih belang dengan dominan putih bersih. Satu kucing berbulu kuning penuh seperti Kukun. Satu Kucing lagi berwarna kuning, cokelat, abu-abu, putih disatu padu menjadi nano-nano. Belang tiga, kalau kata Emak, ada tiga. Si putih-putih dan nano-nano. Sayangnya, yang belang putih hanya bertahan satu. Si Kuning yang belakangan Cicing tau dikasih nama Loreng oleh Emak, juga tak selamat karena habis diserang si Garong. Cicing ga tau ada masalah apa antara Kukun dan Garong. Yang jelas, setiap ada kucing berwarna kuning, pasti langsung dikejar mati oleh si Garong. Begitulah nasib si Loreng. Loreng sempat diselamatkan Emak, tapi dia ga bertahan karena ada luka di lehernya. Pada akhirnya, hanya dua anak Bulek yang bertahan sampai sekarang. Emak memberi mereka nama Billy dan Sico.

Billy dan Sico adalah kucing betina. Belang tiga. Memiliki sifat yang bertolak belakang. Billy sangat manja dan dekat dengan Emak. Billy hanya mau digendong dan dipangku Emak. Setelah Mr. Tom datang, dia menjadi manuia kedua yang mau didekati Billy. Sekarang, sih, Billy sudah berani dengan manusia mana saja. Kata Emak, Billy itu perpaduan Cicing dan Kukun. Berbeda dengan Sico. Waktu masih kecil, Sico sudah ga mau dideketin Emak. Dia sampai kabur ke rumah tetangga dan ga pulang-pulang. Sico balik lagi ke rumah saat dia sudah agak besar, masih anak-anak, menjelang usia remaja. Sico perpaduan sifat Kukun dan Garong. Tidak manja, tidak mau dekat manusia, liar, tapi penakut.

Kalau dari analisa Emak, Billy itu adiknya Sico. Analisa ini muncul karena Sico dewasa lebih cepat dan beranak lebih dulu daripada Billy. Anak pertama Sico tidak diketahui siapa karena bercampur dengan anak Bulek generasi ketiga, adik-adiknya Myla dan Milo, adinya Billy dan Sico. Jadi, Emak hanya menduga-duga. Dari empat bayi kucing, hanya satu yang bertahan sampai sekarang, yaitu Sitam. Dan Emak yakin, Sitam adalah anaknya Sico, hasil perpaduan jejantang, yang salah tiganya masih ada Kukun dan Garong, serta Kecut!

Emak begitu yakin kalau Sitam anaknya Kecut perpaduan Kukun dan Garong. Karena sifat takut manusianya mirip sekali. Sampai sekarang, Sitam sama sekali tidak mau disentuh. Beda dengan Kecut, Sitam lebih lebay karena pake marah dan nyakar kalo Emak maksa mau pegang. Makannya juga lebih rakus, mirip Kukun. Sementara mata siaga dan daya berburunya tinggi, persis si Garong. 😂

Generasi Sitam lahir tanpa sepengetahuan Emak. Tiba-tiba saja mereka sudah lahir, bercampur antara anak Bulek dan Sico, dan keseluruhannya takut manusia. Emak akhirnya tau, selain karena gen, kucing yang takut manusia juga karena kebiasaan. Sejak lahir sampai usia anak-anak, mereka tidak bertemu dan tidak berentuhan dengan manusia, sehingga anak-anak ini menganggap manusia adalah makhluk berbahaya. Meski mereka tau kalau Emak memberi mereka makan, mereka tetap aja ga mau dideketin Emak. Atau emang hawa Emak bukan hawa penyayang kucing ya?

Eh, jangan ngomong gitu, ntar Emak baper!

Cicing kok gitu? 😢😭

Tuh kan.. paya dah diemin emak-emak nangis…


Billy juga punya anak kok. Lahirannya cukup jauh jaraknya dengan anak Bulek-Sico. Yang diketahui Emak, ada dua anaknya Billy. Saat lahiran, Billy sangat rusuh. Mondar mandir sana sini, mengeong-ngeong. Bahkan bisa lupa naro anaknya dimana. Manja banget lah seperti bapaknya 😎

Pada 27 Agustus 2017, anaknya Billy lahir. Dominan seperti Billy dan Cicing. Lebih banyak putihnya. Sifatnya juga dominan Billy, dan Cicing. Tapi… Cicing tidak ambil andil dalam urusan Billy. Cicing sudah keburu ga ada di dunia. Hehehe.. horor ya, yang cerita bukan kucing hidup?

Iya, Cicing sudah berpulang pada 11 September 2016. Emak waktu itu menangis sampai lama. Makanya tadi Cicing bilang, susah diemin emak-emak kalo udah nangis. Cicing pergi saat Billy dan Sico masih kecil. Tapi ternyata toh Bulek bisa menjaga mereka. Bulek dan Kukun juga, setiap menemani Emak sampai datang bayi-bayi kucing yang baru itu.

Kukun dan Kecut memang akhirnya pergi juga. Tapi masih pulang sesekali. Mereka bukan pergi seperti Cicing. Jadi, ga perlu khawatir.

Nah, kembali ke anak-anaknya Billy. Sepasang anak rusuh, cucunya Cicing ini, diberi nama Utih dan Ciput oleh Emak. Kalau Mr. Tom memanggil mereka Snow dan Star. Utih adalah Snow, kucing jantan manja yang ga bisa manja bahkan masuk lewat jendela. Ciput adalah star, kucing betina berisik yang liar loncat sana sini dan senang bermain. Kalau kata Nenek, Utih dan Ciput sama seperti Billy dan Cicing. Kami ini si Barau-barau.

Saat Billy sudah beranak, Sico dan Bulek memutuskan untuk jadi jejantan lagi. Anak mereka yang tinggal satu, yakni Sitam, diserahkan pada Billy. Billy termasuk ibu yang penyayang. Dia benar-benar mengurus anak-anaknya dan ponakannya sampai usia lepas susu. Kalau kata Nenek lagi, diibaratkan manusia, Billy benar-benar menyusui sampai batas usia dua tahun.


Sebelum Sitam, anak Bulek yang bercampur dengan Sico, Bulek sempat memiliki anak juga. Adik-adiknya Billy dan Sico itu tidak ada yang selamat. Padahal kata Emak, warnanya belang tiga dan kuning dan cantik-cantik. Berbulu lebat. Tapi karena begitu banyak orang yang terpikat dengan mereka, mereka dikejar ke sana kemari. Sampai akhirnya stres, dan menyusul Cicing. Emak sempat memberi mereka nama, Myla dan Milo.

Selanjutnya Bulek hamil lagi dan melahirkan lagi. Lagi-lagi tidak ada yang selamat lagi karena lahiran di luar rumah. Ada satu anak generasi keempatnya yang sempat bertemu dengan Emak. Diberi nama Biru oleh Emak karena matanya yang Biru cantik. Biru adalah kucing pertama di rumah kami yang dibawa ke klinik hewan. Kondisi Biru saat dibawa Bulek ke rumah sudah memprihatinkan. Cacingan parah sampai infeksi. Biru tidak bertahan lama, hanya dua hari saja bertemu Emak. Selanjutnya dia ikut menyusul Cicing dan saudara-saudaranya.

Ah, ya.. Cicing ingat ada satu kucing di luar silsilah keluarga kami. Katanya, dia kucing kampung asli karena memiliki telinga besar. Gray namanya. Nama pemberian Mr. Tom. Emak memanggilnya Uno. Kakek justru memanggilnya Pidau. Haha. Gray satu-satunya kucing di rumah kami yang memiliki nama lengkap dan masih diingat Emak; Uno Gray Pidau. 😂

Gray juga sudah menyusul Cicing. Dia juga sukses membuat Emak nangis karena suatu hari dia menghilang. Saat pulang, tau-tau kaki belakangnya lumpuh. Gray masih bertahan dengan keadaan begitu, berminggu-minggu. Waktu itu Emak belum berani membawa kami ke klinik hewan karena biaya pengobatan yang umumnya memang ga murah sementara Emak masih gitu deh ya.. namanya pengacara… pengangguran dan ga punya acara 😹😹 Tapi, Emak tetap merawat Gray kok. Sampai akhirnya Gray ga mau makan. Emak udah tau aja tanda-tandanya. Ga seperti Cicing yang ga bertanda-tanda langsung pergi. Hehe. Gray pergi sesuai tebakan Emak. Tapi ga tau dimana dia. Jadi ga bisa dikuburin.


Kisah bayi-bayi di rumah Cicing tidak akan berakhir selama masih ada para betina. Saat ini, yang paling kecil adalah si Boncel dan Cebol, anak Sico generasi kedua. Seharunya yang bungsu adalah Biru. Tapi karena Biru sudah ga ada, jadilah sepasang kucing ini si bungsunya.

Boncel mengikuti jejak abangnya, Sitam. Tidak mau disentuh manusia dan bersifat rakus dan gesit. Meski beberapa kali sempat dipeluk Emak, Boncel tetap keukeuh ga mau dekat dengan manusia. Berbeda dengan adiknya si Cebol yang memang cebol dan jauh lebih kecil badannya daripada Boncel. Cebol awalnya memang ga mau dekat Emak, tapi karena sering main dengan Utih dan Ciput, akhirnya Cebol pun dekat dengan Emak.

Kelahiran mereka juga tidak diketahui Emak. Awalnya, anak Sico generasi kedua ini ada empat. Lalu tinggal tiga, dan bersisa dua.

Anak-anak Bulek setelah Sico dan Billy memang tidak terurus karena Bulek memilih lahiran di luar rumah. Sehingga Emak ga sempat menandakan kalender. Begitu juga anak-anaknya Sico. Padahal, Emak pengen banget bisa mencatat semua tanggal-tanggal bersejarah kucing-kucingnya. Apa daya, kami ga terlalu ambil pusing soal tanggal kelahiran dan tanggal bersejarah seperti Emak. Hari ketemu Cicing aja dicatet. Hahaha..

Cicing jadi pengen ikutan mengabadikan tanggal-tanggal yang Emak ingat. Mumpung Emak masih ingat. Kalo udah tuaan dikit lagi, pasti susah kalo ditanya-tanyain 😹😹😹😹


Cicing: 18 Mei 2016 – 11 September 2016
Kukun: 18 Mei 2016
Bulek: 26 Mei 2016
Kecut: 5 Juli 2016

Billy-Sico: 22 Juli 2016 (lahir)

Gray: 25 Desember 2016 (resmi tinggal di rumah) – Januari 2017

Myla-Milo: 9 Maret 2017 (tertangkap kamera, udah bisa jalan dan makan)

Sitam: 9 Agustus 2017 (tertangkap kamera dengan 3 saudaranya, sudah bisa jalan tapi belum makan)

Utih-Ciput: 27 Agustus 2017

Boncel-Cebol: 16 Desember 2017 (tertangkap kamera, masih nyusu, belum lancar jalan)

Biru: 7 Januari 2018 (tertangkap kamera) – 9 Januari 2018


Ada yang mau kasih kado saudara dan anak-cucu Cicing yang masih hidup? 😹😹:p

 

Iklan

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s