Bridesmaid Baper

Dua hari lagi temanku menikah. Minggu depan, temanku yang lain menikah. Minggu depannya lagi, masih temanku yang menikah.

Bukan. Bukan aku akan bertanya, “kita kapan?”, seperti biasanya. Aku hanya sedang berpikir, dimana aku saat hari-hari penting mereka?

Aku teringat kisah pernikahan seorang teman. Itu adalah kali pertama aku mendapat undangan pernikahan seorang teman. Waktu itu aku masih kuliah. Aku ada, lebih tepatnya, merasa ada, di masa-masa sulitnya waktu itu. Aku datang hampir setiap hari ke rumahnya. Membuka pintu kosanku lebar-lebar, dan menyediakan kasur untuknya. Tapi, di hari pernikahannya, aku menghilang. Menghilang karena alasan konyol yang membawa penyesalan. Dan penyesalan itu masih ada sampai sekarang.

Waktu itu aku merasa tak bisa pergi sendiri. Aku takut. Padahal, kalau dipikir-pikir, aku bisa saja pergi sendiri karena lokasi pernikahannya di rumahnya, yang jelas sudah sering kudatangi. Tinggal naik kereta, dan jalan kaki sedikit. Bodohnya aku menolak kata hatiku saat itu. Aku memilih mengikuti pendapat orang, yang sekarang menurutku dia memang tak punya hati. Aku terlalu bergantung padanya waktu itu, sehingga aku merasa tak mampu ke pernikahan temanku meski harus sendiri. Sial!

Bukan hanya satu pernikahan yang gagal kudatangi, karena sepertinya aku memang tak cocok dengan undangan, undangan apa saja. Aku lebih sering tidak bisa datang.

Setahun kemudian, udangan dari teman yang lain datang. Undangan dari tempat yang jauh. Sangat jauh! Dan aku kesal. Kekesalan itu masih terasa sampai sekarang. Dia menikah di Bali sementara aku masih di Depok. Berita pernikahan itu datang padaku seminggu sebelum acara. Bagaimana aku tidak kesal? Seorang teman baik menikah, dan aku tidak bisa menjadi apa-apa di hari penting itu? Datang aja ga bisa, coba!

Saat itu juga aku bersumpah ingin sekali menjadi milyarder yang bisa dengan gampangnya menelepon pilot pribadi, memintanya menjemputku di kosan dan mengantarku ke rumah sang mempelai wanita, dan lalu mengacak-acak kondenya karena lancang baru mengabariku saat itu padahal acaranya minggu depan. Sayangnya, aku hanya bisa menangis di kamar kosan. Mengingat aku bukan seseorang yang punya nomor telepon seorang pilot, dan isi atmku saat itu nyaris nol. Aku menyesal menjadi perempuan boros pemalas saat itu. Karena aku tak bisa membeli tiket yang HANYA seharga satu jutaan. Atau sekedar membeli kado yang mungkin harganya bisa ditekan berkali-kali lipat. Aku kesal dan marah menjadi aku yang lagi-lagi tak datang di hari penting teman sendiri.

Sebenarnya bukan masalah datang atau tidak datang. Tapi siapa aku bagi diriku sendiri dan siapa aku di hari penting mereka. Jelas, di dua pesta tersebut aku bukan siapa-siapa selain seorang teman bullshit yang tidak hadir di acara penting seorang teman. Bagi mereka aku mungkin sesuatu, tapi bagi diriku sendiri, aku hanyalah sampah yang tertonggok di sudut kosan. Tidak berguna. Dan tidak bisa kemana-mana!

Mengapa begitu penting “siapa aku bagi diriku dan siapa aku di hari penting mereka”?

Karena berbulan sebelum teman yang di Bali menikah, aku mendapat undangan lagi. Dan aku bisa menghadiri acaranya. Perdana aku datang ke acara pernikahan seorang TEMAN! Dan pernikahan pertama dan yang terakhir yang kudatangi dengan-nya dan teman-teman kampus. Aku senang, setidaknya aku hadir. Masalahnya, siapalah aku bagi diriku sendiri waktu itu? Hatiku terlalu nyeri untuk menyebut diriku adalah teman baiknya. Karena toh aku baru tau dia akan menikah beberapa hari sebelum acara. Padahal kami bertemu cukup sering di kampus dan kosan. Aku merasa memang bukan siapa-siapa dan positif bukan siapa-siapa ketika mendengar rumor, “jangan bilang-bilang Tawa.” Aku mencoba menggali informasi dan mencari titik terang. Aku takut salah paham. Tapi ternyata aku memang bukan siapa-siapa karena tak ada cerita dan, rasanya memang tak perlu cerita pada tong sampah pecah yang tak bisa menampung terlalu banyak sampah. Ya kan?

Karenanya, meski aku datang, aku datang sebagai orang asing waktu itu. Orang yang hanya duduk diam di pojok, sambil melihat segerombolan teman-teman kampus yang seperti tak kukenal. Ya, aku bisa datang ke acara pernikahan temanku. Tapi aku bukan siapa-siapa. Dan bukan apa-apa.

Aku tak lagi mempermasalahkan datang-tak datang. Siapa bukan siapa. Apa bukan apa. Aku tak lagi peduli. Undangan ada yang sampai padaku, ada juga yang sudah berbentuk foto bersama teman-teman lain yang tanpa aku. Melihatnya nyeri, tapi aku tak peduli. Toh kalau diundang, aku belum tentu bisa datang.

Lalu, apa yang membuatku duduk di sini sekarang dan menuliskan ini?

Karena, dua hari lagi temanku menikah. Minggu depan, temanku yang lain menikah. Minggu depannya lagi, masih temanku yang menikah.

Dalam satu bulan, tiga undanga pernikahan.

Meski undangan itu berhasil membuatku berkata, “kita kapan,” hampir setiap hari, tapi malam ini pertanyaan yang terlontar berbeda.

“Aku siapa?”

Aku siapa?

Tiga undangan dari teman baik. Satu undangan sudah mewanti sejak jauh-jauh hari. Bahkan sejak tahun lalu! Undangan yang satu ini membuatku setidaknya merasa aku siapa-siapa baginya. Membuatku menjadi apa-apa untuk diriku sendiri meski sesaat. Ya, sesaat. Karena sedetik kemudian aku kembali menjadi sampah yang nyangkut di got depan rumah. Tidak boleh naik pesawat karena bau. Boleh pun, tetap tidak bisa karena tidak bisa kemana-mana. Sampah yang tidak punya uang, lagi-lagi, untuk beli tiket pesawat.

Kali ini kasusnya bukan antara Depok-Bali (Jawa-Bali), tapi Pekanbaru-Jakarta (Sumatera-Jawa). Harga tiket lebih murah. Kado juga udah banyak yang simpel dan mudah akses. Tapi apalah arti semuanya kalau permintaan eksklusif jadi bridesmaid terpaksa harus ditolak mentah-mentah!??? Aku akhirnya bisa menjadi siapa-siapa di acara pernikahan seseorang. Tapi aku seketika saja menjadi bukan apa-apa. Dan itu bikin muak! Salah sendiri juga sih. Siapa suruh anti sama duit? Huuft.

Undangan kedua, juga membuatku merasa menjadi sesuatu. Pernikahannya di sini. Aku diminta hadir bahkan sehari sebelum hari H. Menginap di rumahnya. Aku tercengang. Sepenting itukah aku? Aku bahagia. Tapi aku takut. Aku siapa? Sesungguhnya aku siapa baginya? Karena bagiku, aku hanya teman lama yang sering menerima kedatangan teman ke rumah. Yang menjadikan rumah neneknya sebagai basecamp teman-teman sekolah. Aku tidak lebih dari itu. Dan aku seketika menjadi batu. Yang tak tahu harus bersikap seperti apa selain terdiam. Dan menunggu badai berlalu. Aku seketika membenci undangan!

Untungnya yang ketiga tidak mengundangku. Dia blak-blakkan bilang percuma. Karena toh aku tak akan datang. Tapi setiaknya, dia berhasil membuatku merasa menjadi sesuatu. Teman yang ini, berhasil menyadarkanku untuk jadi diri sendiri. Jadi aku yang sejak dulu tak bisa kemana-mana. Dan tak mau kemana-mana. Tapi selalu belajar untuk menyampaikan sesuatu, dengan apa pun caranya.

Dulu mungkin aku menyampaikan kekesalan, penyesalan, dan bahagia dengan emosi. Emosi yang tidak seharusnya. Marah. Aku marah padahal aku bahagia. Aku marah karena kesal. Aku pun marah karena penyesalan.

Sekarang, dia menuntutku untuk menyampaikannya dengan cara yang tepat.

Dimana aku saat hari-hari penting mereka?

Di balik layar telepon dan laptop. Mengganggu H-sekian pernikahan mereka dengan lelucon bodoh. Mencoba menghibur kepanikan mereka. Dan menceritakan ini.

“Ah bodoh. Memangnya bisa menggantikan kehadiran lo di sebuah acara pernikahan?”

Siapa aku harus hadir?

Pekanbaru, 4 April 2018
-ast-

Iklan

6 Comments

  1. Teman banyak yg nikah, hal yg bikin baper dilingkup pertemanan sy adalah kado dan biaya jahit baju seragam. Kek nyakitin banget .😂😂

    Suka

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s