Diary Ponik #2: Liar

Si Anak Magang nanya, tanaman liar itu sebenarnya yang seperti apa?

Kalau Ponik sih asal jawab aja, “Yang ga dibudidayakan!”

Terus dia nyolot, “Berarti Ciplukan udah bukan tanaman liar dong? Kan udah dibudidayakan? Seratus lima puluh ribu rupiah perkilo looooh!”

Lalu Ponik pun kehabisan kata-kata. Soalnya tempat nanyanya (baca: Master) lagi ga bisa dihubungi. Sok sibuk belio.

Ga deng.. Belio ga bisa dihubungi karena ponselnya sudah pensiun. Hwahaha.


Pembicaraan Ponik dan si Anak Magang soal tanaman liar ini datang dari acara berbagi foto tanaman liar di instagram. Diselenggarakan oleh sebuah akun yang fokus dengan dunia tanam-menanam. Akun tersebut sudah seperti komunitas pekebun di dunia instagram. Tempat nanya, tempat berbagi cerita dan foto, tempat jualan, dan lain sebagainya. Nah, akun tersebut setiap minggunya menyelenggarakan kompetisi foto dengan tema tertentu. Minggu ini, temanya adalah “tanaman liar”.

Awalnya si Anak Magang mau ikutan. Terus beberapa hari lalu katanya, “Nggak jadi ah. Males.” Karena dia sedang dalam masa dormansi. Loh? Iya.. yang terhambat itu pertumbuhan mood dan emosinya. Jadi suka gitu deh.. Terus tiba-tiba, pagi ini, dengan semangat ’45, dia keluar kandang. Niat awal mau panen Daun Chaya, malah ambil-ambil foto rumput. Waktu Ponik tanyain, dengan entengnya dia jawab, “Buat ikutan event itu.” Kan minta ditampol yak 🙄🙄

Tapi terus, si Anak Magang minder sendiri mau mengunggah foto hasil berburu tadi pagi. Karena katanya, dia ga tau nama tanaman-tanaman liar itu. Ga seperti akun-akun lain yang caption-nya kece banget karena ada info bagus bin bermanfaat tentang tanaman yang mereka foto.

“Masa isi caption-nya nanya mulu? ‘Ini tanaman apa yak?’ ‘Ini namanya apa yak?’ Kan ga lucu!” gitu kata si Anak Magang.

Melihat dia begitu, kan Ponik jadi kasian juga ya. Akhirnya Ponik kasih tau deh kalau dia ga perlu ribet sendiri.

“Pada dasarnya, semua tanaman itu liar! Bahkan Sanseviera yang dulu sempat berharga raturan ribu perpot kecil itu, juga tanaman liar! Kalau bahasa Ibu kita, ‘tanaman hutan’. Jadi ngapain bingung coba? Upload aja foto rimbang, tomat-tomatmu yang tumbuh dengan sendirinya tanpa disemai dengan sengaja, pepaya-pepaya yang bertumpuk-tumpuk itu, dan.. ciplukan yang harganya mulai naik ngalahin harga cabai itu.”

Ya kan? Semua itu liar. Tanya aja orang-orang yang tinggalnya di desa. Atau yang dekat hutan. Pasti udah ketawa-ketawa aja mereka ngeliat tingak orang kota yang terkaget-kaget dan lebay minta ampun cuma karena berhasil beli sekilo Latuik-latuik, atau minum Teh Kembang Telang!

“Di kampung saya itu mah dibabat habis. Itu juga pasti nongol lagi nongol lagi. Lah namanya tanaman liar kok!”***

 

 

Iklan

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s