Hobi Baru

Maafkan spam tulisan hari ini. Semata-mata hanya untuk melampiaskan apa-apa yang seketika terlintas di kepala. Daripada ditunda besok nanti entar aja kapan-kapan, entar jadinya buyar dan ga ketulis satu apa pun! Hahaha.

 


Watercolor, coloring markers, coloring pen, and pencil colors.

Hanya crayon yang tidak kulirik karena masih belum pandai memakainya. Dan masih belum mau mencoba. Kupikir, cukup dengan alat-alat ini dulu. Untuk mengasah kemampuan mewarnai. Dan menggambar.

Aku menyukai banyak hal. Sangat suka. Tapi tidak pernah benar-benar kutekuni. Aku terlalu tergantung dengan suasana hati. Ini, sih, penyakit lama. Semua orang yang mengenalku juga pasti sudah hapal dengan ini. Karena tergantung suasanan hati, aku bisa saja sangat menyukai menulis hari ini—sampai menulis empat artikel dalam satu hari, dan keempat-empatnya tidak ada yang penting!— bisa jadi besok-besok begah dengan hal-hal berbau tulis menulis. Hari ini senang dengan mewarnai. Besok-besok buku mewarnainya hilang entah kemana karena tidak diacuhkan.

Suasana hatiku beberapa hari terakhir, sedang terikat dengan dunia bullet journal. Ini juga ada kaitannya dengan dunia tulisan indah atau handlettering —yang sudah kupelajari sejak tahun 2016, namun karena tidak rutin dilatih, jadi tidak ada kemajuan. Artikel yang terbit di blog ini pun, juga karena target yang kutuliskan dalam bujo-ku. Meski yang kutargetkan adalah cerita yang lain, minimal target “menulis” terpenuhi sampai tumpah hari ini.

Hobi baru, aku menyebutnya. Karena membuat bullet journal baru kali ini kulakukan dan bisa dikatakan berhasil. Aku memang senang menulis catatan harian. Sejak aku bisa menulis di atas kertas. Catatan harianku itu hanya berupa cerita. Atau kumpulan kata-kata kasar untuk menumpahkan luapan emosi. Dan yang kutahu, isi catatan harianku, tidak enak untuk dibaca. Beberapa kali aku pernah mencoba membuat bullet journal. Tapi belum apa-apa, aku sudah kesal sendiri karena banyak salah di sana-sini. Parahnya, aku menilai bujo-ku itu tidak sebagus bujo-bujo punya teman, atau yang ada di instagram. Akhirnya, aku tidak melanjutkan bujo itu—yang sekarang kusadari, memang asal-asalan kubuat.

Akhir Maret lalu, berkat emosiku yang sedang tidak stabil, aku memutuskan untuk mencoba membuat bujo sekali lagi. Pendorong yang paling kuat untuk membuat bujo ini adalah mood tracker spread yang tersebar di instagram. Melihat itu, aku merasa bisa melatih emosi sendiri. Penting! Batinku.

Aku tidak lagi begitu mementingkan bagus tidak bagusnya. Ada salah di sana sini atau tidaknya. Yang penting, aku bisa menyalurkan keinginanku untuk menata suasana hati. Hasilnya, di hari pertama hingga hari keenam di bulan April, moodku bisa kupertahankan di tahap normal dan tergolong aman.

Meski setelahnya sempat diacak-acak lagi oleh entah-apa, aku tetap berusaha meneruskan hobi baru ini. Mengisi setiap kolomnya. Mulai dari mood trackerweekly spread, drink-drank-drunk tracker dan goals!

Goals.

Selain mood tracker, ini lah yang penting dalam bullet journal, menurutku. Target bulanan, mingguan, maupun harian. Aku memang baru menjalani kebiasaan teratur karena bujo ini. Tapi rasanya cukup memuaskan. Dan rasanya mau tetap menjalani segala sesuatunya sesuai rencana yang sudah tertulis.

Meski ada beberapa target yang peleset, rasanya sekarang tidak masalah. Kalau melihat bujo yang baru terisi sepuluh hari ini, aku merasa kalau aku memang hidup. Apalagi kalau melihat mood tracker-nya.

Kalau dilihat-lihat, masih jauh dari indahnya bujo-bujo yang ada di instagram. Kalau yang menuliskan ini sekarang adalah aku yang dulu, mungkin aku akan berhenti. Dan memaki-maki diri sendiri. Ga usah sok artsy deh! Sekarang masih sering, sih, mengucapkan kata-kata itu. Tapi entah mengapa aku tidak begitu peduli. Aku mungkin tidak artsy. Jiwa seni Ayah, ayahnya Mama, mungkin tidak seutuhnya turun padaku. Tapi aku tetap punya darah seni, baik dari garis Papa maupun garis Mama. Dan lagi pula, kata Bunda, gadis yang pernah kuceritakan dulusoal menggambar dan menulis itu sama. Hanya perkara latihan. Aku tak seutuhnya setuju, karena menurutku bakat mengambil peran yang lebih besar. Tapi, toh akhirnya aku luluh. Dan mulai belajar. Belajar membuat bujo perlahan-lahan. Belajar membuat gambar dan doodling.

Termasuk belajar mewarnai, sekali lagi.

Bagiku ini termasuk pelajaran SD yang asal lulus saja dulu. Mewarnai, kelihatan gampang, tapi kenyataannya tetap membuatku kecil hati kalau hasilnya jelek. Aku dan kakakku pernah membeli buku mewarnai tahun 2016 lalu. Buku yang sedang naik daun pada masanya. Karena diyakini bahwa mewarnai bisa meredakan stres. Waktu itu, aku nyeletuk,“Iya, kalau hasilnya bagus. Kalau ga?” Dan begitulah kenyataannya setelah itu. Melihat hasil mewarnaiku yang tidak sesuai keinginan, dan tidak seindah punya orang, aku berhenti menyentuh buku itu.

Beberapa hari lalu, aku mencoba menyentuhnya lagi dengan prinsip yang sama seperti saat aku mulai membuat bujo. Tidak peduli dengan hasil. Aku belajar untuk menikmati proses mewarnainya. Menikmati masa-masa memilih warna apa selanjutnya. Dan ternyata asyik. Dan aku suka. Aku menikmatinya seperti aku menikmati setiap kolom bujo-ku yang mulai tercoret karena target tercapai (atau tertunda). Aku suka.

Setidaknya untuk sekarang. Entahlah kalau besok suasana hatiku berubah lagi.***

Pekanbaru, 10 April 2018
-ast-

Iklan

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s