Diary Ponik #4: Kunjungan Dari Tj. Uban

Si Anak Magang lagi asik nyiram tanaman di teras tadi sore, saat satu kompi keluarga mendadak muncul di depan mata.

“Ini ercis ya, Dek?” tanya salah seorang dari mereka. Si Anak Magang mendesah dalam hati. Setiap orang yang lewat depan rumah Ponik, alias kebun Sayurankita, pasti lebih tertarik bertanya soal tanaman merambat yang sudah memenuhi nyaris seluruh pagar.

“Bukan, Bu. Itu Kembang Telang.”

“Apa??”

Dan percakapan yang sama antara si Anak Magang dan orang yang baru melihat Kembang Telang, berulang. Mulai dari menjelaskan apa itu Kembang Telang, khasiatnya, apa saja yang bisa dikonsumsi, cara kembang biaknya, dan berakhir pada…

“Boleh kami beli bibitnya?”

“Maaf, bibitnya lagi ga ada, Bu. Kami juga ga menjual bibit.”

“Yang buah keringnya itu looh…,”

“Oh.. itu benih, Bu…” 😅 Dan seketika si Anak Magang merasa pinter.


Bu Saliem namanya. Ia datang berkunjung ke rumah Ponik tanpa sengaja, bersama suami, anak, keponakan dan cucu-cucunya. Bu Saliem tinggal di Tanjung Uban, Pulau Bintan, sementara keponakannya tinggal tidak jauh dari rumah Ponik. Mereka kebetulan lewat. Dan langsung tertarik saat melihat si Clitoria ternatea, yang sedang rimbun dan berbunga lebat.

Pembicaraan tidak terhenti di sana. Karena ternyata Bu Saliem dan suaminya juga berkebun di rumah. Mereka fokus pada tanaman toga, atau tanaman obat, atau bahasa kecenya, tanaman herbal. Katanya, sudah 150 lebih jenis tanaman obat di pekarangan belakang rumah mereka, yang besarnya hanya setengah pekarangan Ponik. Bukan sekedar hobi, Bu Saliem juga sedang mengikuti lomba berkebun. Ponik lupa nama lombanya apa dan oleh siapa, sejenis swadaya masyarakat gitu. Kebun Ibu Saliem menjadi kebun perlombaan untuk kelompoknya, ibu-ibu PKK.

Karena merasa sama-sama aktivis kebun, si Anak Magang mulai mengajak ke kebun belakang. Ternyata, meski sudah memiliki 150 lebih tanaman, masih ada tanaman-tanaman, khususnya tanaman toga, yang asing bagi Bu Saliem dan suaminya. Seperti mint yang beliau baru tahu ternyata ada banyak jenisnya. Begitu pula dengan kemangi-kemangian yang disebut juga dengan Basil. Bu Saliem juga baru lihat daun Bangun-bangun atau Torbangun. Sementara untuk daun Jintan, yang mirip dengan Torbangun, Bu Saliem sudah pernah dengar namanya tapi belum pernah lihat bendanya.

Tidak hanya memberikan informasi, kami juga mendapat informasi. Terutama tentang tanaman DILL! Kamu tahu tanaman Dill? Dill biasa dipakai untuk hiasan makanan atau garnish dalam masakan western. Dill ada banyak jenis dan namanya. Di Indonesia, Dill yang bisa dimakan itu disebut Adas Sowa. Sementara, saudaranya yang dikenal dengan nama Elegant Feather yang biasa digunakan untuk hiasan atau tanaman pagar, disebut adas liar. Masalahnya, orang Indonesia sering salah kaprah. Sejauh penelitian ala-ala-nya Master, adas liar tidak bisa dimakan. Tapi, banyak teman-teman Ponik yang ngotot kalau adas liar itu adalah dill alias adas sowa, dan bisa dimakan. Ponik, Master, apalagi si Anak Magang, hanya bisa hela napas!

Nah! Bu Saliem, ternyata tahu tanaman yang tumbuh rapi di belakangnya Kembang Telang di pagar itu. Tapi beliau lupa namanya. Beliau hapal bentuknya, dan katanya, BISA DIMAKAN! Nah loh!

“Ini dibikin pecel enak. Di sayur asem jugaa.. ih seger banget!”

“Lah, kemarin saya coba makan pait, Bu,” si Anak Magang ngeyel.

“Panennya pucuknya aja. Nih, yang ini, dipotek-potek, terus dimasak, deh.” Bu Saliem menunjukkan bagian mana yang bisa dimakan tersebut. Si Anak Magang hanya bisa ber-ooo saja. 😅

Bu Saliem juga memberi pencerahan ke Ponik dan si Anak Magang tentang salah satu tanaman yang menjadi misteri juga di kebun Ponik selain Dill. Yakni, pohon yang mirip pepaya, tapi berlendir, tapi katanya bukan gedi.

Ternyata oh ternyata, dia adalah GEDI!

“paracetamol” yang ternyata adalah Gedi.

Tanaman itu dibawa oleh Papa, diberi oleh temannya. Namun, kata teman Papa, nama tanaman tersebut “Pohon Paracetamol”. Saat Ponik cek, ternyata beda. Lah kan jadi bingung 😅 Untungnya Bu Saliem punya pohon itu di rumah. Dan katanya, itu adalah Pohon Gedi. Yeay~ Misteri terpecahkan. Eh, belum sih. Kata Bu Saliem, untuk meyakinkan, tunggu berbunga. Bunganya cantik berwarna kuning.

Tanam Okra juga disinggung oleh Bu Saliem. Katanya, di Tanjung Bintan disebut Biji Lendir karena memang berlendir. Di sana biasa diolah sebagai teman makan mie. Hmm.. kunjungan yang menarik!

Si Anak Magang muncul s-k-s-d-nya. Dia minta nomor Bu Saliem, katanya untuk tukar-tukar informasi.

“Wah, iya, boleh! Nanti kalau kamu ke Uban, nginap di rumah Ibu aja!” Wah, kami ingin sekali Bu! Ponik teriak, tapi tidak ada yang dengar. Huuhuu..

Sebelum Bu Saliem dan keluarganya pulang, si Anak Magang minta berfoto untuk dokumentasi. Iya, tau aja dia kalau Ponik udah gatel mau curhat di sini. hehe..

Hari mulai gelap. Kunjungan kilat yang tidak disengaja itu harus berakhir. Tiga puluh menit cukup memberikan ilmu yang banyak bagi si Anak Magang dan Ponik. Yang terpenting, kami punya kenalan baru dan bisa berbagi bibit, benih dan ilmu secara cuma-cuma dan suka-suka. 😄***

Iklan

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s