Terapis

Dan dia membaca lagi. Setelah sekian lama. Meski tak selesai.

Ada satu buku yang menarik perhatiannya kemarin siang saat berkunjung ke salah satu perpustakaan mini yang terbuka untuk umum. Sayangnya, buku-buku di sana belum boleh dipinjam untuk bawa pulang. Dia hanya sempat membaca satu Bab buku itu. Dan dia berjanji akan datang lagi demi buku itu. Tapi kemudian, sesampainya di rumah, janji itu seakan lebur. Meski masih penasaran dengan kelanjutan ceritanya, dia seolah merasa tidak terlalu terikat seperti beberapa menit sebelumnya. Buku ituΒ  kemudian menjadi hal yang biasa saja. Berhasil dibaca sampai tuntas, bagus. Tidak berhasil pun, bukan masalah.

Siang ini, setelah menghabiskan waktu dengan hal-hal yang tidak jelas dan sama sekali tidak produktif, ia mendamparkan diri ke sebuah blog yang menjadi alasan untuk maju-mundurnya semangat membaca dan menulisnya selama ini. Sekali waktu, blog itu bisa membuatnya benar-benar ingin menulis dan membaca buku sebanyak-banyaknya. Lain waktu, dia bisa menjadi sangat muak dan rendah diri. Enggan dan merasa percuma. Dan itu yang terbesit beberapa menit yang lalu, saat ia membaca beberapa artikel terbaru di blog itu.

Perempuan itu lalu menatap layar di depan matanya. Apakah harus berhenti lagi. Atau tetap maju tanpa peduli satu apa pun?

Buku hijau yang berbaring di antara dia dan layar depan matanya kemudian berbisik. Memintanya untuk tetap berjalan. Tapi tetap peduli. Peduli pada sekitar. Peduli pada dirinya sendiri. Berjalan lurus tapi tak lupa menoleh ke segala arah. Agar ia tak tersesat. Agar ia tidak terhenti di jalan buntu seperti biasanya. Buku itu mengajaknya untuk menenangkan diri, sekali lagi. Tanpa harus meninggalkan apa-apa yang sudah dia jalani, dan berusaha ia tekuni, beberapa hari ini.

Dia menarik napas dalam-dalam sambil memejamkan mata. Lalu melepaskan pelan. Perlahan membuka mata.

Beberapa hari lalu, ia memutuskan untuk menjadi terapis bagi dirinya sendiri. Ia menunjuk semua orang dan semua hal sebagai staff-nya: orang-orang dan hal-hal yang akan membantunya dalam menyelamatkan satu jiwa tersesat itu. Sekarang, saat ia kembali menyadari bahwa si Terapis membutuhkan terapis juga, ia kembali gentar. Bisakah ia menyelamatkan dirinya sendiri? Bisakah ia bertahan dan tidak jatuh lagi?

Dia kembali menarik napas dalam-dalam. Kali ini dengan mata yang dibiarkan terbuka. Ia menahan sebentar napas itu di dalam perut dan dadanya. Membiarkan tubuhnya menikmati udara itu berkeliaran di aliran darah untuk beberapa waktu. Pelan, ia mengempiskan perut, dan mengeluarkan sisa-sisa udara yang sudah selesai tersaring.

Ayo, jalan lagi. Tuntun si Terapis. Mengajak tubuhnya bergerak dan menyelesaikan yang tertunda, sekali lagi.

Iklan

5 Comments

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s