1.4.3.9

Sejak kemarin, tertanggal 14 Juni 2018, berusaha meluangkan waktu untuk menulis. Gagal. Karena terlalu banyak hal yang harus dikerjakan, akibat menunda pekerjaan sejak lima hari lalu. Pekerjaan rutin yang selalu menumpuk di akhir Ramadan, setiap tahun, yang kemudian disebut sebagai “tradisi”.

“Wah, ternyata kelompok kecil yang disebut keluarga, juga bisa bikin tradisi ya,” celetuk si Otak.

Jangankan kelompok kecil bernama keluarga, diri yang tunggal ini juga sebenarnya juga bisa bikin tradisi. Contohnya, menulis setiap malam takbiran. Tradisi ini pernah ditekuni tiga tahun berturut-turut, 2013-2016. Tapi kemudian buyar, karena banyak hal. Catatannya juga udah ga bisa dibaca oleh khalayak ramai.

Kembali ke persoalan.

Jadi, ada sekitar 3 tema yang ingin ditulis. Satu di antaranya, bisa jadi menghasilkan 9 tulisan. Bisa jadi lebih. Bahkan bisa jadi tidak tertulis sama sekali. Terlalu banyak ide itu sudah pasti membuat jengah diri sendiri ya?

“Bikin mumet!” si Otak protes.

Tapi, harus segera dituliskan. Karena, si Hati khawatir, semua rekaman yang sudah dikumpulkan akan lenyap begitu saja, tanpa jejak. Padahal, sudah belajar tentang literasi media dan arsip. Masa masih mau membiarkan data penting-ga-penting itu hilang? Bagaimana pun, mereka nantinya bisa menjadi “sesuatu”. Minimal, sesuatu yang bisa jadi akan ditutup kembali setelah dibuka lebar-lebar.

“Apa sih?” si Otak makin senewen, si Hati mulai ga sabar dengan sederet huruf yang kembali tersusun dengan pola yang sama.

Ya sudah, mari kita akhiri saja, sebelum jam menunjuk angka 12 untuk kesekian kalinya.

“Selamat menikmati hari yang penuh berkah ini! Berbahagialah! Dan selalu mawas diri! Semoga masih ada waktu untuk mengisi 1439 ini dengan hari-hari positif yang produktif!” kata Ku.

“Lah, emang ada hari positif yang tidak produktif?”

“Ada. Contohnya seharian ini. Guling-guling di kasur seharian. Positif karena untuk recovery energi tubuh yang habis terkuras sehari kemarin. Tidak produktif karena….. ya elah, guling-guling doang sambil main hape dapet apa sih?” Ku jadi kesal sendiri.

“Berarti ga positif.” Hati hanya mencoba menimbang-nimbang.

Sudah ya? Perdebatan di antara mereka takkan ada habisnya bahkan seperti kemustahilan gunung sampah bersih total dari penjuru Bumi!***

Iklan

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s