Kabar dari Solok #1: Goes to Bakureh Project~

Akhirnya hari itu tiba. Kamis, 31 Mei 2018, saya harus meninggalkan kota Pekanbaru untuk beberapa hari, demi menuntaskan tugas mulia dari sang maharatu, si Master-nya Ponik! Meski awalnya saya tidak mau, tapi dipikir-pikir, ada baiknya juga mencoba jalan-jalan ke negeri yang belum pernah saya jajaki itu. Ditambah lagi tidak ada keluarga sama sekali di sana. Sebuah tantangan baru yang kalau terlalu dipikirkan jadi menakutkan, tapi kalau dijalani langsung, ternyata bisa aman-aman saja.

Sekitar pukul 6 sore, saya berhasil menginjakkan kaki di negeri yang berjarak 5-6 jam perjalanan dari Pekanbaru, via darat. Sepanjang perjalanan, saya berusaha untuk tidak tidur. Padahal, dulu saya paling menikmati tidur di dalam mobil dalam perjalanan ke mana pun. Tapi kali ini tidak. Ada tiga alasan. Pertama, karena saya sudah begitu rindu dengan pemandangan yang hijau-hijau. Kedua, agar bisa mengambil beberapa gambar pemandangan cantik dan fenomena unik. Ketiga, karena saya baru pertama kali ke Solok. Takut nyasar euy! Makanya saya memperhatikan jalan benar-benar. Sampai mencatat via handphone tanda-tanda dan petunjuk jalan yang sudah dilalui. Saya memang pencemas tingkat lalalaa..

Sesampainya di Markas Besar Gubuak Kopi, saya kembali merasakan cemas. Tapi bisa diatasi dengan cepat berhubung beduk dan azan berkumandang tidak lama setelah saya ikut duduk bersama teman-teman lainnya. Menikmati es kelapa, es oyen dan gorengan, dilengkapi air putih hangat, itu rasanya lebih penting daripada galau, karena perut sudah berontak minta makan. Perjalanan panjang, yang entah mengapa menguras tenaga padahal cuma duduk saja, disandingkan dengan puasa, memang menjadi tantangan lainnya yang harus saya hadapi. Untunglah berhasil. Puasa tetap lancar. Perut aman dari rasa mual. Kepala bebas dari pusing dan kantuk.

Tidak banyak yang bisa saya lakukan di hari pertama di Gubuak Kopi itu. Hanya memperkenalkan bibit-bibit tanaman oleh-oleh dari Sayurankita ke Bang Albert, sang ketua Komunitas Gubuak Kopi, dan Delva, sang ketua proyek yang sedang saya ikuti. Selanjutnya, berbincang-bincang dengan teman-teman lainnya. Sebagian dari mereka sudah saya kenal, seperti dua ketua tersebut, dan tiga anggota mereka; Volta, Risky, Zekal, serta Maria, teman jauh dari Jakarta yang sedang melarikan diri dari kelas Milisifilem yang dimotori oleh Forum Lenteng. Selebihnya adalah orang-orang baru yang menarik dan sedikit menakutkan, serta empat orang teman senasib seperjuangan saya; Nahal, Sefni, Roro, dan Olva. Sambil menunggu dua teman senasib seperjuangan, Qiuqiu dan Ica, yang masih dalam perjalanan, kami berlima mengakrabkan diri di tengah-tengah keramaian suara semua orang yang sibuk dengan cerita dan pekerjaan mereka. Saya dan Roro sempat mencari makanan tambahan keluar berhubung stok makanan di Markas mulai menipis akibat perut-perut keroncongan yang semakin ramai. Kami membeli pecel ayam pesanan beberapa teman yang masih lapar dan minuman STMJ, Susu-Telur-Madu-Jahe, yang sepertinya cukup terkenal di Kota Solok ini. Tidak lama kemudian, setelah selesai makan dan minum, dan ngobrol-ngobrol sebentar, kami  berlima undur diri untuk istirahat, mengingat besok akan menjadi hari yang padat bagi kami bertujuh. Qiuqiu dan Ica? Masih dalam perjalanan. Dan kalau tidak salah, mereka tiba sekitar pukul 12 malam.


Goes to….

Tugas mulia yang diembankan Master ke si Anak Magang ini, adalah menjadi partisipan kolaboratif dalam proyek “Bakureh Project” yang diinisiasi oleh Gubuak Kopi untuk program Daur Subur-nya. Proyek ini merupakan kegiatan Daur Subur periode keempat, dengan mengangkat tema “bakureh”, yakni tradisi memasak bersama yang dimotori kaum ibu dalam perhelatan seperti pernikahan, pengangkatan penghulu, aqiqah, upacara kematian, dan turun mandi. Proyek ini bertujuan untuk memetakan tradisi bakureh dan menganalisis isu-isu yang berkembang di dalamnya, baik isu perempuan, isu adat istiadat, isu media kreatif warga, atau isu-isu sosial, budaya dan politik lainnya. Dalam kegiatan ini, ketujuh perempuan yang sudah dikumpulkan oleh Delva selaku ketua proyek, yang disebut “para Pendekarwati”, akan menjadi pembelajar sekaligus peneliti tradisi “bakureh” di lingkungan masyarakat Sumatera Barat, untuk kemudian direkam dalam bentuk  video, foto, rekaman audio, dan tulisan. Markas pusat penelitian adalah markas Gubuak Kopi sendiri. Sementara lokasi risetnya terdiri dari beberapa tempat, yakni Kota dan Kabupaten Solok yang akan diteliti oleh Roro, Olva, Nahal dan saya; Pariaman oleh Sefni; Payakumbuh atau Batusangkar oleh Ica; dan Agam oleh Qiuqiu.***

 

Iklan

3 Comments

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s