Kabar dari Solok #2: Hari Pertama Berlokakarya, Belajar Bermedia

Sekitar pukul 3 pagi, terdengar ketukan pintu kamar. Saya langsung terjaga, seperti biasa, seperti setiap kali datang ke tempat baru. Saya lalu membangunkan teman-teman yang lain, sambil bersiap-siap untuk ke Markas yang terletak di sebelah gedung utama, tempat Gubuak Kopi menyewa kamar untuk para Pendekarwati ini.

doc. Gubuak Kopi

Di Markas, makanan untuk sahur sudah terhidang. Kami langsung mengantri untuk menyendok makanan. Selanjutnya, semua berkumpul di meja diskusi, dan makan bersama. Ica dan Qiuqiu sudah datang. Saya sempat bersapa dengan Ica saat di dapur, tetapi tidak dengan Qiuqiu karena sama-sama tidak sadar. Seusai sahur, Delva membuka pembicaraan yang tertunda sejak tadi malam. Pembicaraannya tidak banyak, hanya sebatas perkenalan

doc. Gubuak Kopi

formal para pendekarwati dan fasilitator. Delva juga menjelaskan jadwal kegiatan hari itu dan apa yang harus kami persiapkan. Tidak banyak, hanya buku catatan dan alat tulis. Karena seharian itu kami akan kuliah mengenai “Literasi Media” bersama Bang Albert.

Subuh itu tidak ada kegiatan lain. Kami diizinkan beristirahat kembali dan berkumpul lagi pukul 10 pagi, untuk pengambilan gambar. Teman-teman yang lain, termasuk para fasilitator sudah mulai gugur satu persatu. Kembali ke alam mimpi. Tidak mau ketinggalan, saya pun kemudian menyusul mereka, seusai solat dan bergosip sebentar bersama para pendekarwati yang masih terjaga.

Matahari naik tak lama kemudian. Kesibukan pagi hari sudah mulai terasa. Saya sadar, hari sudah mulai siang, tapi masih enggan untuk bangun, apalagi melihat teman-teman semuanya masih menikmati kenyaman di atas kasur. Tapi seketika saya bangun dan tidak bisa tidur lagi. Ada alarm alami yang terdengar dari balik kamar: suara tangis anak kecil, yang habis berantem dengan kakaknya. Saya bangun sambil merutuki tangisan yang tak kunjung berhenti itu. Kepala menjadi sakit, tambah sakit karena saya membuat situasi tersebut menjadi lebih serius. Akhirnya saya memutuskan untuk mandi saja. Menikmati sisa-sisa udara dingin dari air dalam bak mandi.

Itu adalah kali terakhir bagi kami, para pendekarwati, merasakan air segar. Sebelum musibah kekeringan melanda selama kurang lebih tiga hari. Kekeringan karena perbaikan pipa PAM.


doc. pribadi

Para pendekarwati sudah berkumpul di Markas Gubuak Kopi. Kami masih menunggu sang fotografer, Risky, yang sedang mempersiapkan alat-alatnya. Beberapa teman ada yang memilih membaca buku di perpustakaan mini Gubuak Kopi. Beberapa ada yang memperhatikan Volta, Hafiz dan Bang Cugik mempersiapkan layar presentasi dadakan. Saya sendiri, asyik memperhatikan mereka semua, sambil menelpon.

Tak lama kemudian, Risky memanggil kami satu persatu. Sesi pemotretan pun berlangsung, sekejap saja. Hasil pemotretan akan digunakan untuk profil para Pendekarwati dan fasilitator yang akan diangkat ke media sosial. Seusai pemotretan, kami semua berkumpul di ruang galeri Gubuak Kopi yang multifungsi, bisa menjadi ruang makan, ruang keluarga, ruang tamu, ruang nonton, dan ruang diskusi.

Delva, sebagai ketua proyek, membuka kegiatan pagi itu didampingi Bang Albert. Mereka menjelaskan sekilas mengenai Program Daur Subur yang diinisiasi Gubuak Kopi sejak 2017, dan kaitannya dengan Bakureh Project. Dari penjelasan Bang Albert dan Delva, saya menangkap bahwa Daur Subur merupakan program pemetaan dan pengarsipkan jejak agrikultur di lingkungan sosial dan budaya masyarakat

doc. pribadi

Minangkabau. Daur Subur menghadirkan kembali sejarah dan tradisi pertanian masa lampau tanpa mengesampingkan perkembangan teknologi dan budidaya pertanian masa kini. Daur Subur hadir sebagai media untuk melihat ke belakang, mengamati yang sekarang dan menerawang ke depan. Bagaimana perkembangan budaya pertanian di Sumatera Barat, khususnya Solok, memiliki korelasi yang kuat dengan sektorkehidupan lainnya. Dan bagaimana kemajuan teknologi memainkan perannya dalam mengubah pola kehidupan masyarakat dan budaya pertanian Sumatera Barat. “Bakureh Project” adalah salah satu media yang diciptakan Gubuak Kopi berangkat dari Daur Subur tersebut. Proyek ini hadir untuk mengamati salah satu isu terkait budaya pertanian di Sumatera Barat, yakni tradisi “bakureh“. Mengingat bahwa pertanian tidak hanya sebatas urusan ladang dan cangkul, melainkan lebih luas dari itu. Pertanian juga merambah aspek kehidupan lainnya, salah satunya kebutuhan pangan.

Delva menjelaskan rencana proyek yang akan berlangsung kurang lebih dua bulan. Proyek ini terdiri dari lokakarya, yang sedang kami jalani, dan akan berlangsung selama tujuh hari. Dilanjutkan dengan riset dan pengolahan data, dan ditutup dengan presentasi publik. Bang Albert juga menegaskan cakupan wilayah riset kami tidak terbatas di Solok saja, melainkan Sumatera Barat secara khusus. Untuk itu, beberapa pendekarwati dikirim pulang kembali ke kampung halamannya masing-masing untuk melakukan riset “bakureh” di sana. Mereka adalah Sefni (Pariaman), Ica (Batusangkar/Payakumbuh), dan Qiu-Qiu (Agam). Sementara Roro, Olva, Nahal dan saya ditugaskan di Kota Solok dan Kabupaten Solok. Roro dan Olva sama seperti anggota Gubuak Kopi lainnya; orang lokal Kota Solok.

Kegiatan hari itu berhenti menjelang solat Jumat setelah berfoto bersama, dan dilanjutkan pukul 2 siang. Waktu istirahat tersebut kembali kami manfaatkan sebaik mungkin. Ada yang memilih kembali ke kamar untuk tidur. Ada yang memilih tetap di Markas untuk menulis. Ada yang membaca buku. Ada pula yang bercerita ngalor kidul. Bahkan ada yang makan–beberapa orang memang sedang tidak berpuasa hari itu 😅. Saya? Tentu saja memilih untuk tidur. Hohohoo…

doc. Gubuak Kopi

Lagi-lagi alarm alami berteriak nyaring. Saya tidak tahu ada pertengkaran apa lagi antara adik-kakak cucu ibu pemilik kamar kontrakan. Saya lagi-lagi bangun dengan sakit kepala, dan emosi mulai naik. Untungnya ada teman-teman Pendekarwati yang menjadi tempat pelampiasan. Kami pun berbagi pandangan mengenai anak kecil yang mampu menangis histeris–sampai kejang-kejang–untuk waktu yang cukup lama. Menarik, karena ada yang merasa iba, ada juga yang merasa kesal seperti saya. Hahaa..

Seusai berbenah, kami berbondong-bondong kembali ke Markas. Di sana sudah ada Bang Albert, “dosen” kami hari ini, sedang menunggu dengan sabar. Tidak lama setelah semua pendekarwati dan fasilitator berkumpul, kuliah pun dimulai. Bang Albert memulai materinya dari sistem penyebaran informasi atau pesan. Saat Bang Albert menjelaskan ini, saya kembali teringat masa kuliah. Berkali-kali saya mendapatkan materi tersebut namun tak kunjung melekat diingatan untuk jangka waktu yang panjang. Saya diingatkan kembali mengenai hubungan romantis dunia komunikasi, yakni antara komunikator, pesan, dan komunikannya. Bagaimana si Komunikator alias si Pemberi Pesan menyampaikan pesannya atau informasi yang ia miliki sehingga pesan tersebut dapat diterima dengan baik oleh si Komunikan alias si Penerima Pesan. Ketiganya, kata Bang Albert, adalah akar dari perkembangan “media”. Sebab, dalam proses penyampaian pesan (berkomunikasi), Komunikator menggunakan media (perantara atau penghubung), yang dapat berupa teks, audio, visual, atau audio-visual, untuk mencapai Komunikannya. Media-media tersebut dapat ditemukan dalam medium (wadah perantara) berupa surat, koran, toa (pengeras suara), telepon, radio, internet, televisi dan lain sebagainya. Komunikasi yang baik adalah komunikasi dua arah, yakni pesan yang disampaikan komunikator dapat diolah kemudian direspon oleh komunikannya, sehingga komunikan tersebut dapat pula menjadi komunikator bagi komunikator awal. Ada perputaran informasi di dalamnya.

doc. Gubuak Kopi

Lahirnya “media massa” berawal dari komunikasi satu arah yang mencakup banyak orang dengan memanfaatkan medium-mediumnya. Seperti koran sebagai medium penyampai pesan berupa teks, dicetak sebanyak-banyaknya dan disebarkan seluar-luasnya, makan koran menjadi media massa. Sementara jaringan televisi ketika mampu mencapai banyak orang dengan sinyalnya, ia pun menjadi “media massa”. Dalam praktiknya, Bang Albert melanjutkan, koran, radio, atau televisi mampu mengubah budaya. Bang Albert memperlihatkan kepada kami sebuah ilustrasi bagaimana televisi dapat mengubah pola hidup seseorang. Dalam ilustrasi tersebut, saya melihat, pada awalnya satu keluarga memiliki tradisi berkumpul sekeluarga membentuk satu lingkaran. Tradisi tersebut berubah saat televisi masuk ke kehidupan mereka. Keluarga tersebut tidak lagi berkumpul secara melingkar, melainkan duduk sejajar menghadap ke televisi. Dari yang sebelumnya ada pembicaraan dan diskusi secara tatap muka, menjadi hening karena asyik menonton dan menerima informasi dari televisi. Ada pun diskusi mengenai acara televisi, diskusi tidak lagi terjadi dengan saling bertatapan, namun mata tetap fokus ke televisi. Dari sini, Bang Albert menekankan bahwa media dan teknologinya membawa perubahan dan dapat mempengaruhi kehidupan masyarakat. Berangkat dari pernyataan ini, Bang Albert menggiring kami pada pemikiran bahwa apabila media dapat mempengaruhi massa, maka media seharusnya dapat diberdayakan untuk kemudian disebarluaskan.

Bang Albert lalu mengajak kami menyelami masa lalu. Komunikasi jaman dahulu sudah mengenal “media”, yang disebut alat komunikasi kuno atau media tradisional. Contohnya lukisan di dinding gua. Lalu media tradisional tersebut berkembang seiring perkembangan teknologi. Setelah ditemukannya huruf dan olahan lapisan kayu menjadi lembaran-lembaran, orang tidak lagi membuat relief di gua-gua, melainkan mencatat hal-hal di sekelilingnya dan informasi-informasi penting dalam bentuk simbol dan huruf. Kemudian ditemukanlah alat pencetak sekitar tahun 175 M di daerah Cina dan Korea. Lalu pada tahun 1440, Johannes Gutenberg, dari kota Mainz, Jerman menciptakan metode baru untuk membuat salinan halaman yang identik. Dari sini, teknologi percetakan semakin berkembang hingga kita tiba pada era digital dan internet. Perkembangan yang terjadi ini merupakan bagian dari usaha untuk menyebarluaskan pesan atau informasi sebagai dampak dari kebutuhan manusia akan komunikasi. Sebab, komunikasi adalah sebuah kebutuhan untuk bertahan hidup bagi manusia yang pada hakikatnya adalah makhluk yang hidup berkelompok.

Bang Albert juga menyinggung media-media kreatif lokal, yang tampak berbeda dengan media Eropa. Seperti di Minangkabau, dikenal tetabuhan atau kentongan yang berfungsi untuk mengumpulkan orang dan menyampaikan informasi. Tradisi “bararak” atau arak-arakan pun termasuk media kreatif lokal, yang gunanya untuk menyampaikan informasi ke masyarakat tentang adanya sebuah pesta dan lain sebagainya. Sementara dalam perkembangan media Eropa, dikenal journal atau majalah dinding (mading) yang kemudian menjadi cikal bakal koran dan koran daring.

doc. Gubuak Kopi

Sebelum melanjutkan kuliahnya, Bang Albert sempat meminta tambahan dari Delva dan para fasilitator. Kemudian, Delva menjelaskan bahwa dalam berkomunikasi harus mengikutsertakan akal dan budi. “Akal” di sini melahirkan ide yang ingin disampaikan, terkait dengan fungsi otak. Sementara “budi” , terkait dengan fungsi hati nurani, menentukan cara yang tepat untuk menyampaikan ide tersebut. Ketika daya artistik diolah akal budi, maka muncullah keterampilan yang menghasilkan seni.

Kuliah bersama Bang Albert yang bisa dikatakan kelas diskusi ini, kemudian bergeser ke ranah seni, sebagaimana yang sudah dipancing Delva melalui fungsi akal-budi tersebut. Kemudian kami ditanyai satu persatu tentang pemahaman kami soal kata “seni”. Saya tidak begitu ingat jawaban spesifik dari teman-teman Pendekarwati dan fasilitator, tapi beberapa ada yang menjawab bahwa seni adalah estetika. Seni adalah keindahan. Sementara menurut saya pribadi, seni adalah bagian dari diri manusia, siapa pun itu. Seni adalah cara pandang seseorang terhadap sesuatu. Seni adalah ideologi.

Setelah mendengar semua pendapat dari Pendekarwati dan fasilitator, Bang Albert dan Delva secara bergantian menjelaskan apa itu seni.

“Seni adalah urusan personal,” kata Delva. “Seni bukan hasil, melainkan proses, keinginan, dan pola pikir. Hasil dari seni disebut karya seni. Sementara seni itu sendiri adalah sesuatu yang dimunculkan dari dalam diri, yang diniatkan hadir.”

Kami bingung. Jelas. Karena penjelasan Delva berbeda dari yang selama ini kami dapatkan dari sekolah. Bang Albert lalu menambahkan bahwa seni tidak melulu soal keindahan. Hal yang kita anggap tidak indah, bisa menjadi karya seni. Semua tergantung dari perlakuan dan niat sang seniman.

“Salah satu contohnya adalah karya Marcel Duchamp. Ia menampilkan pispot yang ia beri nama ‘R. MUTT 1917’ sebagai karya seninya dan dipamerkan di Society of Independent Artists, New York, pada 1917. Pispot dalam pandangan umum adalah barang yang jauh dari kata keindahan. Di sini, Duchamp berhasil mematahkan itu sehingga definisi ‘seni’ tidak lagi sebatas estetika atau keindahan semata.”

Berhari-hari kemudian, saya mencoba mencari informasi tentang karya Mercel Duchamp tersebut, yang ternyata diberi judul “Fountain“. Karya ini kemudian dinobatkan sebagai tonggak perlawanan terhadap paham seni modernis-formalis yang dianggap kaku dan terlalu banyak aturan.

Dari penjelasan mengenai seni, Bang Albert kemudian menyinggung perkembangan seni rupa Eropa berdasarkan zamannya, mulai dari Era Yunani Kuno, saat konsep ateis, LGBT dan kebebasan lahir dan berkembang. Kemudian Era Gothic (Romawi Kuno), yang menjadi masa dimana orang-orang mulai memeluk agama. Pada era ini, agama menjadi kontrol dan benteng agar tidak terjadi keos. Era Gothic, agamais diagung-agungkan, bertolak belakang dengan era Yunani yang menganggap musuh agamais karena dinilai terlalu kaku. Pada Era Kegelapan, agama menjadi terlalu mendominasi, sehingga yang awalnya hadir untuk menghindari keos, justru terjadi keos. Era keagamaan runtuh di era ini. Lalu, masuk Era Reinanseanse, yang disebut sebagai era pencerahan. Pada era ini, ilmu pengetahuan berkembang pesat dan menjadi cikal bakal perkembangan teknologi.

Materi dari Bang Albert tidak berhenti sampai di sini, masih ada materi mengenai perkembangan teknologi dan seni video. Namun, kuliah hari itu harus terputus sebentar karena hari sudah sore. Kami pun bersiap untuk berbuka bersama. Bergotong royong kami membersihkan ruangan, membentangkan tikar dan menyusun makanan. Menu buka puasa dan makan malam dibuat oleh ibu kontrakan, Bu Sari, dan anaknya, Kak Kiki, sehingga kami cukup menyusunnya saja di atas meja.

Dalam buka puasa bersama itu, Gubuak Kopi mengundang ketua RT dan ketua pemuda Tembok, tapi sayangnya mereka berhalangan hadir. Namun demikian, acara tetap berjalan dengan lancar dan menyenangkan. Kami diberi waktu sampai Isya untuk makan dan beristirahat. Seusai solat, materi pun dilanjutkan kembali. (bersambung)

doc. pribadi

 

 

Iklan

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s