Bun,

Beberapa tahun lalu, kita sudah pernah membahasnya. Tentang bagaimana kedekatan kita dengannya. Bagaimana sejarah merekam asal mula dia kita panggil “Bunda”. Sudah pernah juga kita bahas bagaimana dia seperti mengerti kita seutuhnya meski kita hanya melempar isak tangis tanpa kata.

Malam ini, kita kembali menjawab rindu yang menggema sejak beberapa waktu lalu. Sebab, qadarullaah, bertepatan pula hari ini dengan setahun silam; hari ketika dia menjadi satu-satunya orang yang mengakui kita sedang tidak baik-baik saja di saat semua orang berkata kita hanya mencari-cari perkara.

Tapi, bukan itu yang ingin kita bahas malam ini. Bukan hari itu. Pun bukan rindu seperti waktu itu. Bukan ketergantungan seperti malam kita menghabiskan waktu empat jam bersamanya, hanya untuk meluapkan amarah yang disusul tenang lalu menangis lantas tertawa kemudian histeris.

Kita masih memanggilnya “Bunda”, meski sekarang kita pun dipanggil “Bunda” oleh orang lain. Panggilan itu yang membuat kita mau tak mau bersikap konyol di depannya. Sama sekali gagal untuk bersikap dewasa. Selalu ada celah untuknya menarik sifat kekanak-kanakkan kita;

Yang menjadikan dia tempat untuk kita mencak-mencak untuk urusan yang terlalu privasi; meski bukan lagi yang satu-satunya, sebab yang pertama Dia, yang kita sadari keberadaan-Nya, salah satunya, dari perempuan yang kita panggil Bunda itu.

Kita masih ingin mejadikannya satu-satunya teman, satu-satunya tempat, satu-satunya “Bunda”, meski waktu terus bergulir dan mempertemukan kita dengan lebih banyak orang (setelah dengan sabarnya dia “mengajarkan” kita untuk terus bersosialisasi dan memperluas jaringan). Dia masih menempati tempat pertama untuk kategori orang yang berhak tahu ada apa dengan kita, meski komunikasi kita tak seintens setahun lalu. Dan Dia pun sepertinya masih mengizinkan kita untuk merekam ingatan tentang dia dalam rangkaian kata, meski sudah berkali-kali kita berjanji untuk tak lagi terjun ke dunia ini.

Semoga kemarin yang terakhir. Jangan ada lagi janji yang kita tahu takkan bisa kita tepati. Sebab, kita sama-sama tahu, Dia anugerahkan kemampuan ini bukan tanpa sebab. Seperti yang dia katakan, bisa jadi dari tulisan-tulisan kita yang kita nilai tidak jelas ini, ada seseorang yang memilih untuk bertahan, seperti kita waktu itu yang memilih untuk tetap berjuang. Bisa jadi ada seseorang yang spontan mendoakan, sebab bersyukur atas tulisan yang tanpa sengaja melegakan.

Yang ingin kita bahas adalah betapa dia masih menempati posisi pertama dari kalangan hamba-Nya, bahkan untuk urusan rencana merekam jejak orang-orang di sekitar kita.

Semoga Dia tidak cemburu.

Bun, gue balik!

-ast-
6 Syawal 1442 H

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: