Aditya

Seperti biasanya. Tidak ada ingatan untuk pertemuan pertama. Yang kita ingat hanyalah malam saat kali pertama mereka semua duduk manis di hadapan kita, meminta diajarkan membaca Al-Qur’an.

Aditya namanya. Salah seorang dari mereka, yang berbadan paling tinggi. Yang ternyata, juga, yang paling tua.

Dia yang protes ketika semua anak laki-laki itu memanggil kita “Bunda”. Tidak cocok, katanya.

“Kalau ibuk, baru cocok.” Kita tertawa. Panggilan itu mengingatkan kita pada Ibuk, salah satu alasan mengapa kita tidak mau meninggalkan tempat ini.

“Terserah mau panggil apa, yang penting sopan,” jawab kita merespon pendapat Adit.

Malam itu kita menguji bacaan mereka. Sejauh mana mereka mengenal huruf hijayyah. Aditya kita putuskan masuk kelas Al-Qur’an. Bacaannya masih terbata-bata, dia pun tidak percaya diri dengan bacaannya. Namun, entah mengapa, kita ngotot ingin mencoba.

“Kita lihat seminggu ini, kalau masih berat untuk Adit, baru turun Iqra’. Nggak apa, kan?” tanya kita dengan suara paling lembut yang kita punya. Adit setuju.

Esoknya, mereka semua dengan semangat mengambil papan dan Al-Qur’an. Mereka duduk membentuk setengah lingkaran. Aditya duduk tepat di hadapan kita. Namun malam itu tidak seperti malam sebelumnya. Emosi kita sedang tidak terkontrol. Anak-anak itu pun rusuhnya juga tak terkontrol. Alhasil, kita meledak. Sialnya, Adit yang berumur lebih tua dari mereka semua harus kena imbasnya. Di mata kita, Adit seharunya memberikan contoh yang baik untuk adik-adiknya. Tidak meribut, apalagi berkejaran di dalam Masjid. Ketika kita gagal menenangkan anak-anak yang lain, kita akhirnya memanggil Adit, membawanya ke belakang. Ke tempat yang tidak terekam oleh CCTV.

Adit memang bersalah malam itu. Ia turut berlarian di dalam Masjid. Bergelut, meribut dan berkejar-kejaran. Namun tidak seharusnya kita melakukan kekerasan fisik padanya. Malam itu, kita gagal menjadi guru yang baik. Kita gagal menjaga agar tangan ini tidak melukai anak-anak yang butuh bimbingan. Kita gagal dalam ujian kesabaran.

Malam itu, kita mencubit Adit dengan geramnya, sampai mulutnya tertahan tak bisa berteriak. Matanya basah. Sorotnya kesal. Dia menjawab dengan suara bergetar. Bukan Adit, katanya. Namun kita tak mau tahu. Keegoisan orang dewasa menguasai kita yang sudah kelelahan karena seharian beraktivitas. Kita tetap bersikeras Adit tidak pantas bersikap seperti bocah, karena dia sudah SMP! Adit harus menjadi contoh yang baik!

Dengan sombong kita menyuruh Adit kembali duduk. Seperti tidak terjadi apa-apa, kita kembali mengajar Al-Qur’an. Namun perasaan bersalah itu ternyata perlahan menyeruak masuk ke dalam dada. Kita tersadar, sikap kita lebih salah dibanding tingkah Adit dan teman-temannya, yang memang masih anak-anak. Kita sadar, kita sudah gagal meninggalkan kesan guru baik dan lemah lembut kepada murid-murid yang belum sehari kita ajar. Kita sadar, seorang pegiat Al-Qur’an tidak layak bersikap kasar kepada pembelajar Al-Qur’an. Astaghfirullah, telatkah untuk mengakuinya?

Adit takkuasa membendung air matanya. Ia meminta izin ke kamar mandi dengan suara bergetar. Tanpa menunggu jawaban kita, ia langsung meninggalkan tempat belajar, menuju kamar mandi. Kita tahu, dia menangis. Tangannya pasti sakit sekali karena kita benar-benar menumpahkan kekesalahn dan keletihan pada kulitnya yang tipis. Aditya pasti membenci kita, bisik batin kita, yang juga ingin menangis.

Ketika dia kembali, teman-temannya menyadari ada yang berbeda dari Adit. Wajahnya basah, matanya merah. Teman-temannya bertanya, apakah dia menangis. Adit menggeleng.

“Mata Abang seperti kemasukan sesuatu. Tu, Abang ambil air wudhu’.” Kita yakin, dia berbohong.

Teman-temannya tidak berani bertanya lagi karena kita meminta mereka untuk menyimak bacaan. Suasana belajar malam itu menjadi sangat tidak nyaman. Adit yang ceria dan usil menjadi pendiam. Teman-temannya yang lain juga jadi cepat bosan dan hilang fokus karena suasana terlalu tegang. Kita pun, menjadi semakin lelah.

Qadarullah, waktu terasa berjalan lebih cepat. Usai jam pelajaran, semua murid kita persilakan pulang. Kecuali Adit. Kita menahannya, dan menyuruh semua murid keluar Masjid. Saat tinggal berdua, kita meminta Adit untuk membalas cubitan kita tadi. Adit terkejut lantas menolak. Kita terus memaksanya karena kita tahu cubitan itu pasti sakit. Sembari meminta maaf, kita terus meminta Adit untuk mencubit kita. Padahal untuk seusianya, Adit sudah tidak boleh menyentuh perempuan, tak terkecuali kita, gurunya.

“Nggak, Bun. Nggak apa-apa,” kata Adit menolak. Ya, panggilannya kepada kita berubah dengan sendirinya dari “Ibuk” menjadi “Bunda”.

“Cubit.” Ternyata kita memang pemaksa ulung.

Adit pun mencubit tangan kita, tapi hanya secuil. Tak berasa apa-apa.

“Lebih kuat.” Nadanya nada perintah.

“Udah, Bun,” jawab Adit. Ia menggeleng, lantas mengakui bahwa ia salah sementara “Bunda”-nya tidak salah. Hati kita tergerus, sakit. Sebodoh itulah kita, yang tidak pernah berurusan dengan anak-anak. Sampai-sampai kita tidak tahu betapa hati mereka tulus dan bersih.

Aditya namanya. Yang mengajarkan kita bahwa kelembutan itu memberikan efek jera lebih dalam daripada kekerasan.

Ya, kita jera main fisik. Aditya menjadi murid yang pertama dan yang terakhir, yang kita lukai dengan tangan ini.

-ast-
15 Syawal 2021

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: