Km 30

7 April 2021

“Kemana ni? Kiri kanan?”

“Kanan.” Dia menjawab dengan percaya diri penuh. Kita manut. Sesi curhat masih berlangsung tanpa ragu.

.

.

“Serius ini jalannya? Nggak salah, ni?”

“Iya, betul, Kak. Kalau ke kiri tadi ke Pasir Putih tu.” Kita kembali manut, melanjutkan sesi curhat yang tiada habis.

.

.

“Riz, salah ndak? Makin gelap nampaknya, ha.”

“Nggak do, Kak. Percaya sama Riz.” Kita diam. Manut tapi ragu. Konsentrasi pecah.

.

.

“Keknya lihat maps-lah. Ragu Kak.” Kita menepi ke pekarangan sebuah Masjid besar tanpa nama, mulai panik.

.

.

“Oh, iya benar. Ke atas. Nah, pegang hape Kak.” Kita lega. Riz manut. “Atas ni, kan?”

“Yuhu~” Kita mulai tenang, cerita panjang kembali berlanjut.

.

.

“Eh, bentar lu, Riz. Yakin ke sini? Makin jarang rumah-rumanya nampak Kak?”

“Iya, betul. Itu kata maps-nya. Lurus terus. 27 menit lagi.”

Betul ni, ya? Ni kita ngejar hujan ni. Dah kilat-kilat depan, dah.” Ragu itu ternyata masih menggelayut. Kita kebut jalanan.

“Eh, tapi kok dia jalan mundur, Kak?” Kita tergelak. Bahkan maps saja kebingungan.

“Jadi gimana, nih? Lanjut?”

“Iya, coba aja lurus, Kak.” Kita kembali manut.

.

.

“Kak, kok makin ngawur maps-nya, nih? Tadi 23 menit. Trus jadi 27 menit. Sekarang 30 menit.” Dalam panik, kita masih hisa tergelak.

“Seriuslah?” Kita menepi. Berniat bertanya pada seseorang, tapi tak berani. Maps masih saja diharapkan!

GUK!!!

“Astaghfirullaah!” Serentak mengucap. Gas langsung ditancap. Anjing hanya bertugas, toh?

“Abangnya sampai bangun! Dikiranya kita mau lempar bom kali, ya, ‘siapa tu hitam-hitam, tau-tau melesat pergi.” Riz mengoceh. Kita hanya mampu tergelak.

.

.

“Keknya emang salah, nih. Makin gelap, ha. Kawannya truk aja, ni.”

“Tapi yang ke arah sana banyak, Kak.”

“Itulah dia masalahnya. Tapi rumah penduduk makin jarang, Riz.”

.

.

“Kak rasa kita salah, ni!” Belum sempat terjeda, “Kan! Km 30 Riz!” Kita tergelak.

“Seriuslah, Kak!”

“Iyaaa. Itu barusan lewat. ‘Km 30’ kata papannya.”

“Eh, Kak. Riz madap depan lu, Kak. Takut Riz.” Kita tergelak lagi. Entahlah. Bersamanya semua tampak layak ditertawakan. Bahkan kebodohan sendiri.

“Wait, wait.” Kita menepi lagi. Berniat memudahkan Riz menghadap ke depan, tapi…

GUK!!!

“Astaghfirullaah!!” Belum sempat menepi, sudah diusir.

“Heeh! Udahlah, Riz langsung madap depan ni, Kak!” Motor masih bergerak. Kita masih tergelak.

“Dah, Riz? Mutar kita ni.”

“Dah. Masuk, Kak. Kosong.”

“Oke! Pegangan, Riz. Kak ngebut, ni!”

“Oke!”

.

.

Hening…

.

.

“He, cukup malam ni, Kak. Ga lagi-lagi besok, doh!”

“Iya. Teguran, nih. Melalak aja kita.” Takut membuat kita menyesal. Entah besoknya.

.

.

Hening…

.

.

“Nah, ini baru benar. Itu dia jalan tadi.”

“Hee… siapa tadi tu yang nunjukkin jalan?” Kita tergelak lagi. Nyali kembali.

“Tulah! Melalak Lillah juga lah lagi!” Kita sadar kita salah. Kita sadar ada Allah.

“Tapi ya besok jangan diulangi lagi!” Takut memang membuat kapok.

Entah kalau jera…

-ast-

17 Syawal 1442 H

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: