Write Down

because we will find the next words to complete this story. just if we keep write and write it down. don't read it until it finish. coz' look back too often just make you wanna leave. though it is good, but it just sometimes. not all the time. so write it down, just write it…

Iklan

Tahan

REM! kunci aliran rasa yang tak henti keluarkan gelora jangan sampai ia habisi apaapa yang semestinya memadati hati jangan sampai dibuatnya kosong! SUMPAL! hambat celahcelah yang hembuskan embunembun sukacita halangi ia keluar agar tak tertinggal hanya duka hati butuh banyak rasa yang menyeimbangi langkah agar tak goyah! Agar Tak Jatuh Lalu Pecah! -ast- Rumah Kopi…

Gula dan Kopimu

Hari sudah berganti. Dini hari yang kau setubuhi, sudah tak beku lagi. Amarah mencairkan rasa yang didinginkan fajar agar tak basi. Tapi kini ia pucat pasi. Ampas kopimu membusuk. Gulamu bahkan tak disentuh semut. Derai lukamu meneteskan muak. Memaki senja tempatmu berpijak. Tunggu habis waktunya. Pun menyesap kopi beserta serpihan cangkir kaca. Menelan berkubik-kubik gula. Berharap…

Alam Yang Sempurna

Tak ada lagi alam yang sempurna, Sayang. Ia hancur, meski tak seluruhnya.Ia masih memukau, meski tak seutuhnya. Ia menangis, saat kita tersenyum padanya. Ia bersinar, saat redupnya menyiksa jiwa. Indahnya, tercoreng sudah dimana-mana.     Tak ada lagi alam yang sempurna... Yang tinggal hanyalah hati yang mau menerima. -ast- Pku, 221016

Datar

Aku mencoba untuk mendatarkannya. tidak turun, tidak terlalu turun. tidak terlalu naik, tidak naik. Aku ingin semuanya biasa-biasa saja. karena yang tidak biasa akan tinggal kan yang luar biasa. berbisa. Aku berusaha datar. berusaha sabar. berusaha sadar. mencoba tegar. lapar. Haus juga. Haus naik-turun dada. gejolak yang tak biasa. sabar yang tercabik sangka Hei! Semua…

Malam Melelah

Ia lelah. karena terlalu banyak hal yang harus disaksikannya. melihat peristiwa-peristiwa. menyimpan rahasia-rahasia. Bahkan kepada deru angin. tak mampu ia berbisik, sepatah kata saja. berbagi rahasia. menyaksikan bersama-sama. Bahkan kepada embun pagi. tak ada pesan yang ia tinggalkan. sebelum pergi. sebelum lelahnya disambut mati. -ast- Pku, 041016

Peluk Dia Untukku

Ada jarak. Meski ada yang berkata, bukan dia membentang, hanya tangan merentang. Lalu mengatup dan tinggalkan redup. Meski ada, jarak pertemukan kita. Ketika raga ku berada berjuta kilometer darimu, hati ku terpaut padamu. Di alam sana, kita menyatu. Karena jarak kita diarak. Aku tak berani berkata, Sayang. Tak berani katakan sayang. Karena ada jarak. Kita butuh dia…

Hujan di Rimbang Baling

--soal kata-kata yang datang terlambat-- Hai... Kita di sini sekarang. Menyatukan diri pada alam. Tapi pada hujan, membatin dan protes, "Argh! Kau menggangu acaraku!" Padahal sejatinya, Hujan juga sedang berpuisi. Ia dan bulir-bulir beningnya, sedang menyairkan kata-kata tak terdengar. Halo... Coba lihat! Gelap kadang menyebalkan, ya kan? Apalagi ketika yang kau harap adalah terang. Tapi, Hei!…

Menunggu Hujan

teriknya sudah membakar kulit tipis ini. tak lagi memerah. legam sudah. sengatannya mengeringkan semua yang ada di tubuh ini. bulir air mata. keringat dan air ludah. Waktu berjalan semestinya. perlahan pasti. tak pernah berhenti. secepat kilat. meski kadang tersendat. kerontang berdentang. seiring rinai mulai berdendang. Masanya habis, Sayang. karena luka sudah mengering. yang membasahi menguap…

Menjejak Hati Dalam Pelarian

Ada satu yang kupahami, akhirnya, ketika kaki memilih untuk mengangkat diri, lalu pergi. ---memangku ransel tak berisi, ---menjinjing harap larut dalam mimpi. Bahwa ternyata, Singkat cerita bukan berarti sia. Sekejap waktu tak sama jemu. Karena cerita yang terkukir antara ketidaktahuan dan keingintahuan adalah bayang yang penuh percaya dan harapan. Sementara perpisahan yang mereka ciptakan, Tak melulu…

“Tapakiak!”

manyasak. taisak. malagak. tagalak. tahampeh. talapeh. tasuduik. tatungkuik. marongrong. manggotong. tacakiak. tapakiak. banyak nan ka dikecean, dek ndak ta suo kato-katonyo, mamakiak se lah! -ast- Pku, 130916 *firts on Minangnese~ ❤

Menjadi Batu di Pesisir

hanya semesta yang tau kapan badai kan datang hanya semesta yang tau kapan angin ribut berkumandang hanya semesta yang tau kapan laut 'kan mengamuk dan menerjang maka aku adalah batu yang sombong menantang mereka yang berang maka aku adalah batu yang pongah melawan mereka yang menjarang maka aku 'kan menjadi batu yang tak tau malu,…

Sepasang Mata yang Tersenyum (III)

matalah yang menjatuhkanku. lalu melambungkanku. karena di matalah apa yang ingin kuketahui, muncul, lalu bersinar. tapi di mata jualah apa yang kutakuti, tampak, lalu menerkam. maka, Sayang... sebenci apa, semuak apa, se-apa-pun kau pada mataku, ---yang kan selalu tampak oleh mataku, aku takkan bisa mengalihkan mataku dari -mu. karena dalam mata-mata itu, harapku terbaca mata…