Luka Januari

Ada hujan dalam Januari dan rindu yang selalu ingin terus memayungimu. Ada Luka yang dalam, sedalam kebahagiaan Januari itu sendiri

oleh: Satya Wira Wicaksana

Malam Puisi Pekanbaru

cropped-header.png

Ada Luka dalam Januari

Umat manusia dibagi dua dalam hitungan tahun; Masehi dan Hijriah. Sebagian dari itu, berada dalam Masehi. Salahsatu tradisi dalam Masehi adalah orang-orang berlomba menutup dan merenung saat penghujung tahunnya dan memulai kehidupan barunya saat awal Masehinya; Januari.

Tetapi hidup sekadar hidup jika hidup berjalan dengan sangat rapi dan kaku. Tidak memiliki kejutan apa pun. Padahal, seturut Zasdar, hidup itu acak adanya–dan hidup yang baik adalah yang memiliki luka dan keresahan-keresahan di dalamnya sebab hanya dengan itu semua manusia dapat berkembang. Menjadi terserah apa yang mereka mau dan berdiri di luar pagar, kata Malna.

Akan tetapi, manusia akan selalu takut akan luka sebab di dalamnya hanya akan ada pengasingan dari luar dan dalam dirinya. Memang benar, tidak ada yang menginginkan kehidupan yang sulit lagi penuh luka, namun luka adalah satu-satunya syarat menuju keresahan dan keresahan menuntun manusia ke dalam kehidupan yang lebih baik bagi diri dan peradabannya…

Lihat pos aslinya 134 kata lagi

Kelas Menulis MPP “Bedah Puisi Reky Arfal”

Yok! Belajar membedah gagasan. Biar bisa merangkai gagasan.

Malam Puisi Pekanbaru

1484241847384Membedah Puisi adalah Membedah Gagasan

Oleh : Satya Wira Wicaksana

Menulis puisi bukan perkara yang gampang, meskipun semua bisa menulis, apa yang mereka sebut, puisi. Puisi merupakan jembatan komunikasi antara bahasa realitas dan bahasa yang emosional. Dalam puisi, penyair juga berbicara dengan bahasa yang biasa, namun dengan pendekatan yang hiperbolik, metafor, koherensi antar diksi, dsb. Singkatnya, puisi memiliki gagasan dan nilai yang dibawa si penulis.

      Puisi merupakan salah satu cabang sastra, yang sesuai harfiah dari “sastra” itu, juga berarti pedoman. Terlepas pedoman untuk apa yang digunakan oleh si pembaca. Puisi akan bermuara pada pernyataan-pernyataan sebagai akhir dari pemahaman si penulis. Dalam perjalan menulis puisi, sebelum sampai ke tahap “pemahaman” tersebut, di tahap itulah penulis membenturkan kepalanya untuk menyampaikan gagasannya dengan bahasa yang syarat makna.

     Dalam perjalanan filologi/sastra, puisi memang didominasi oleh puisi-puisi roman yang berkaitan dengan kehampaan akibat cinta dan segala hal yang berkaitan obsesi emosional…

Lihat pos aslinya 643 kata lagi

Kenapa Harus Pacaran?

Ada yang bisa jelasin. Alhamdulillah ada yang bisa jelasin isi batin gue sebulan belakangan :’))

#FDCG

Hmm…

Judul diatas adalah sebuah pertanyaan yang sekiranya sedikit mengganggu pikiran gue akhir-akhir ini. Ya, entah kenapa, beberapa hari kemarin, gue menghabiskan hampir seluruh waktu di dalam kamar dan mereview ulang perihal rekam jejak gue sewaktu masih punya pacar dulu.

Dari sekian banyak memory yang terputar ulang, gue pikir, waktu itu gue memilih untuk pacaran karena gue suka sama seorang cewek dan pengen mengikat cewek tersebut dalam ikatan pacaran sehingga nantinya nggak ada cowok lain yang berani mendekat untuk mengambil hati cewek tersebut dari gue.

Sesederhana itu.

Namun, setelah dilihat lebih jauh, pada dasarnya, ikatan pacaran nggak benar-benar mampu untuk mengikat gue dengan si cewek. Karena pada akhirnya, udah beberapa kali gue merasakan bagaimana rasanya cewek yang udah menjadi pacar gue itu direbut oleh cowok lain.

Lihat pos aslinya 1.020 kata lagi

Why I Write

lynhorner March 9, 2016 at 2:04 PM "So yes, I write for myself first. If someone chooses to read my words, so much the better, but I’ll keep writing even if they don’t." Source: Why I Write I should think and do like this from now. Because before, I did write for you, for he,…

Writing Me

“Writing me because no one else will.
No one else could.” -OM

HarsH ReaLiTy

I have begun to dig a little deeper.

I am writing me. I am writing the words that have bounced around in my soul for most of my life.

Releasing them like canaries from the cage of my heart, I feel my soul thank me from the relief. I pen the things that should not be because I can.

Writing me because no one else will.

No one else could.

-OM

44.1

img_0825

Lihat pos aslinya

Butuh Berapa Tahun?

Laba-Laba Kuning

Pagi yang berkecamuk kali ini. Setelah meninggalkan kelas Kebudayaan Indonesia pukul setengah sepuluh pagi, saya berjalan gontai menuruni tangga Gedung XI FIB UI. Berbagai pikiran lalu-lalang setelah berbagai trivia yang diberikan sang dosen.

Sebelum masuk lebih jauh, saya ingin menjelaskan bahwa kelas Kebudayan Indonesia merupakan kelas turun-temurun yang menjadi mata kuliah wajib di universitas negeri di seluruh Indonesia, khususnya jika mereka memiliki fakultas sastra. Terimakasih kepada Prof. Koentjaraningrat yang menjadi pendiri bidang Antropologi di Indonesia (sekaligus guru besar/akademi/profesor pertama di Indonesia dalam bidang Antropologi), yang membuat kelas ini dengan bukunya “Manusia dan Kebudayaan di Indonesia”. Singkatnya, kelas ini membahas kebudayaan-kebudayaan di Indonesia secara general, masalahnya, dan menganalisanya.

Dosen saya, dengan gayanya yang ceria, mengatakan. “Ada seorang antropolog Perancis bernama Christian Pelras yang meneliti masyarakat Bugis selama 30 tahun.” Saya langsung terkaget-kaget, meskipun fakta seperti ini harusnya pun tak asing. Anrjit, pikir saya, tiga puluh tahun! Dan Monsieur Pelras ini…

Lihat pos aslinya 456 kata lagi

Puisi-Puisi Cinta Ini Berharap Bisa Memeluk Kamu Segera

Kau mengajariku bagaimana cara ‘memeluk diri sendiri’
🙂

huruf kecil


*

dunia yang lengang

sebuah usaha, agar orang-orang
lebih banyak bicara dengan mata,
pemerintah membuat aturan ketat.
setiap orang hanya berhak memakai
seratus tiga puluh kata per hari, pas.

jika telepon berdering, aku meletakkan
gagangnya di telingaku tanpa menyebut halo.
di restoran aku menggunakan jari telunjuk
memesan mi atau coto makassar. aku secermat
mungkin melatih diri patuh aturan dan berhemat.

tengah malam, aku telepon nomor kekasihku
di jakarta, dengan bangga aku bilang kepadanya:
aku menggunakan delapan puluh sembilan
kata hari ini. sisanya kusimpan untukmu.

jika ia tak menjawab, aku tahu, pasti
ia telah menghabiskan semua jatahnya,
maka aku pelan-pelan berbisik: aku
mencintaimu. sebanyak lima belas kali.

setelah itu, kami hanya duduk membiarkan
gagang telepon di telinga kami dan saling
mendengar dengus napas masing-masing.

*

sajak saat hujan

jika saja waktu dan kenangan adalah layang-layang, sudah kugulung benang-benangnya dan kugunting bagian yang tak kuingin.

hari itu, hujan curah tak deras…

Lihat pos aslinya 2.262 kata lagi