Semasa

Semasa silam kubongkar cerita. Kususun ulang kata-kata, kucari makna di baliknya. Tapi jeda hilang bersama penghapus yang hangus, menggesek kertas tinggal gores membekas. Semasa silam kucari cerita, kubongkar kata-kata, kususun makna di dalamnya. Dan jeda masih tak bersua, rupa lupa kutaruh mana. Jeda hilang bersama cerita yang tak membayang. Cerita habis lekas-lekas, rupa habis maknanya.…

Syah Pada Rani

---MF's tak ingin lepas kecup, sampai nanti tak lagi berdenyut. apa yang dipuja. puja yang dicinta. cinta yang disuka. suka yang leburkan kasih, dan satukan rintih. memeluk saat kuncup, sampai ranggas kelopak lalu hanyut. -ast- Pku, 180117

Menjelang Rindu

#1 Menjelang rindu, biar kuhabiskan galauku dulu. Aku tak mau kau risau semasa kumpul rejeki tuk hidupiku. Menjelang rindu, biar kutenggak prasangka sejenak. Aku tak mau kau beranjak hanya karena kubutuh perhatian banyak. Menjelang rindu, biar kukatakan padamu. "Aku mencintaimu seperti es krim yang tak bisa tak leleh setiap jauh dari kulkas." Aku tak seromantis tatapanmu,…

Pernah Ada

Yang dulu adalah pelepas dahaga. Serupa serbuk putih yang harus kuhirup di beberapa senja. Mesti kuhabiskan malam menggaruk hidung hingga pagi tiba. Sekarang hanya tinggal sisa-sisa Yang menggeliat di daun telinga Serbuk putihnya tak lagi melega Tersangkut banjir di pelupuk mata -ast- Pku, 230117

Kata-kata

Kata-kata berseliweran. Cari cara mengukuhkan ketiadaanmu dalam batinku Tapi penuh sudah suaramu gemakan kata-kata yang menggelitik sekujur tubuh yang merindu. Kata-kata berseliweran Cari cara menghapus ingatan Atau kupendam saja, biar dia kekal! Bersama rasa-rasa yang harus dan tak harusnya. -ast- Pku, 240117

Jangan Senja

#1 Aku mematut jendela. Berharap ada rona yang selalu kupuja menggenggam cakrawala di barat sana. Lalu tiba-tiba saja mataku terpejam. Seperti menuruti maumu, mengabaikan hatiku. Marah mengingat kata-katamu yang cemburu pada senjaku. #2 Jangan ada senja lagi, katamu. Ia tak butuh puisi. Aku menutup telinga. Tak ingin dengar apa-apa. Tapi rupanya ia menyatu dalam vena…

Salicyl #1

Kata-katamu gerogoti pikiranku Sedikit Pelan Perlahan Kugaruk tak mau hilang melebar geli meluas semakin gatal. Asmaku sudah hilang sejak minggu lalu. Tapi kata-katamu masih saja menggatal di sudut kepala paling dalam dekat telinga. Mana salicyl untuk hilangkan kata-kata? -ast- Pku, 230117

Terbang Tinggi

Mungkin karena sudah memasuki akhir bulan, dompet makin tipis, tabungan ga nambah-nambah dan kerjaan pasti belum juga datang menghampiri, makanya si Adik teriak-teriak ke pesawat, pagi-pagi, di saat si Kakak masih molor. Atau bisa jadi karena rindu melarikan diri; mau jalan ke sana, nggembel ke sono, mendaki ke situ, ngeteng ke entah. Yang jelas, hawanya memang…

Luka Januari

Ada hujan dalam Januari dan rindu yang selalu ingin terus memayungimu. Ada Luka yang dalam, sedalam kebahagiaan Januari itu sendiri

oleh: Satya Wira Wicaksana

Malam Puisi Pekanbaru

cropped-header.png

Ada Luka dalam Januari

Umat manusia dibagi dua dalam hitungan tahun; Masehi dan Hijriah. Sebagian dari itu, berada dalam Masehi. Salahsatu tradisi dalam Masehi adalah orang-orang berlomba menutup dan merenung saat penghujung tahunnya dan memulai kehidupan barunya saat awal Masehinya; Januari.

Tetapi hidup sekadar hidup jika hidup berjalan dengan sangat rapi dan kaku. Tidak memiliki kejutan apa pun. Padahal, seturut Zasdar, hidup itu acak adanya–dan hidup yang baik adalah yang memiliki luka dan keresahan-keresahan di dalamnya sebab hanya dengan itu semua manusia dapat berkembang. Menjadi terserah apa yang mereka mau dan berdiri di luar pagar, kata Malna.

Akan tetapi, manusia akan selalu takut akan luka sebab di dalamnya hanya akan ada pengasingan dari luar dan dalam dirinya. Memang benar, tidak ada yang menginginkan kehidupan yang sulit lagi penuh luka, namun luka adalah satu-satunya syarat menuju keresahan dan keresahan menuntun manusia ke dalam kehidupan yang lebih baik bagi diri dan peradabannya…

Lihat pos aslinya 134 kata lagi

"Tidak apa-apa"-mu menjadi "apa-apa"-ku sekarang. Seperti hilang rasa malu, seurut tanggung jawab yang tunggang langgang. -ast- Pku, 240117

Seperti hatiku, katamu, tulisanku tak sepatutnya menyimpan benci dan kata-kata kasar cukuplah bersemayam di pasar. -ast- Pku, 230117

Terima kasih sudah mengajarkanku untuk menikmati saat ini dengan cara-cara terbaik yang bisa kita lakukan. Demikian kau menyadarkanku bahwa detik ini lebih baik dari apa pun. -ast- Pku, 230117