“Bakureh Project” DAUR SUBUR: Belajar (dan) Bekerja Keras

Awal Juni 2018 seolah menjadi kesempatan satu-satunya bagi saya pribadi. Kesempatan untuk membuka pintu belajar sekali lagi, untuk kemudian membiarkan diri ini terkurung di dalam dunia belajar yang tak akan pernah terhenti lagi. Sempat terjadi perang batin, bahkan sampai sekarang, mengenai langkah yang saya ambil. Ada rasa takut, tapi ada rasa ingin mencoba juga. Saya memilih untuk memperbanyak rasa yang kedua, karena saya tahu, sudah saatnya saya belajar untuk berani salah dan kalah. Juni 2018, adalah kesempatan untuk mencari dan membuat kesalahan itu, dan menghadapi kekalahan itu. Saya rasa, saya hanya butuh salah dan kalah, agar tetap bisa menangis, memastikan seluruh organ di dalam tubuh ini masih berfungsi dengan baik (anak bayi baru lahir kan gitu, harus nangis, katanya.)


“Bakureh Project” DAUR SUBUR adalah proyek kedua, setelah proyek iseng Sayurankita, yang saya ikuti dengan (mau tak mau) serius. Proyek ini diprakarsai oleh Komunitas Gubuak Kopi, sebuah kelompok belajar nirlaba yang berdiri sejak tahun 2011. Dalam web-nya, dijelaskan bahwa “Komunitas ini berfokus pada penelitian dan pengembangan pengetahuan seni dan media berbasis komunitas di lingkup lokal kota Solok, Sumatera Barat. Gubuak Kopi memproduksi dan mendistribusikan pengetahuan literasi media melalui kegiatan-kegiatan kreatif, mengorganisir kolaborasi antara profesional (seniman, penulis, dan peneliti) dan warga secara partisipatif, mengembangkan media lokal dan sistem pengarsipan, serta membangun ruang alternatif bagi pengembangan kesadaran kebudayaan di tingkat lokal.” (baca: Tentang Gubuak Kopi) Intinya, Gubuak Kopi menjadi tempat untuk belajar lebih dalam tentang dunia media, kepenulisan, arsip, budaya, dan seni, agar kelak kita menghasilkan suatu karya yang bermanfaat bagi diri sendiri dan banyak orang, khususnya masyarakat lokal kota Solok.

Gubuak Kopi memiliki beberapa program, salah satu di antaranya adalah Daur Subur, suatu kegiatan memetakan dan mengarsipkan kultur pertanian di Sumatera Barat melalui pendidikan media berbasis komunitas. Program Daur Subur terdiri dari rangkaian kegiatan observasi, mengarsipkan, memetakan, meneliti dan mempresentasikan hasil riset, yang terangkum dalam kegiatan Lokakarya, Riset dan Presentasi Publik. Kegiatan Daur Subur sudah berlangsung sejak Juni 2017 dan menghasilkan 3 lokakarya dan presentasi publik, yakni Kultur Daur Subur (Juni-Juli 2017), Lapuak-Lapuak Dikajangi (September-Oktober 2017), dan Lokakarya Daur Subur di Padang Sibusuk (Januari 2018). “Bakureh Project” merupakan kegiatan keempat dari Program Daur Subur, yang akan berlangsung mulai 1 Juni 2018 sampai dengan 19 Agustus 2018.

Proyek ini juga terdiri dari rangkaian kegiatan yang sama seperti tiga kegiatan sebelumnya, yang dirangkum dalam Lokakarya, Riset dan Presentasi Publik. Lokakarya “Bakureh Project” diselenggarakan pada 1-7 Juni 2018 (sudah selesai). Riset berlangsung selama kurang lebih dua bulan, terjadwal 8 Juni 2018 – 11 Agustus 2018. Sementara Presentasi Publik direncanakan 17-19 Agustus 2018. Dalam kegiatan Lokakarya, ketujuh partisipan “Bakureh Project”, yang disebut “pendekarwati Daur Subur”, mendapat pembekalan mengenai tradisi bakureh, literasi media, dan metode riset berbasis perspektif warga. Selama empat hari, para pendekarwati wajib mengikuti kuliah umum, di antaranya materi Literasi Media dari Albert Rahman Putra dan Delva Rahman di hari pertama; materi Adat Istiadat Minangkabau dari Mak Katik dan Kultur Bakureh dari Bundo Kanduang Suarna di hari kedua; materi Metode Riset, yang kembali disampaikan oleh Albert; dan materi Kultur Bakureh sebagai Adat Istiadat Minangkabau dari Buya Khairani di hari keempat. Tak hanya itu, pendekarwati juga mendapat kuliah tambahan di hari kelima mengenai “Bakonsi” dari Kharisma, sarjana lulusan ISI Padang Panjang. Konsep tradisi bakonsi mirip dengan tradisi bakureh sehingga dirasa perlu bagi pendekarwati untuk memahami tradisi bakonsi agar dapat melihat bakureh dari berbagai sudut pandang. Di hari keenam pun, pendekarwati masih mendapat satu kuliah lagi dari Hendra Nasution, Dosen ISI Padang Panjang, mengenai Bakureh sebagai seni pertunjukkan yang menyimpan spirit Kota Solok. Kuliah umum tersebut menjadi bekal untuk dibawa ke lapangan tempat para pendekarwati akan melakukan riset selama dua bulan tersebut.

Delva Rahman (empat dari kiri) bersama ketujuh Pendekarwati “Bakureh Project” setelah penutupan Lokakarya, 7 Juni 2018 (dok. Gubuak Kopi)

Yang menjadi tujuan “Bakureh Project” adalah pengkajian dan pengarsipan nilai-nilai kebudayaan lokal yang tersirat dalam tradisi bakureh. Para pendekarwati diajak untuk menuliskan hasil observasi di lapangan, yang dikembangkan dari bekal yang sudah diberikan sebelumnya, melalui metode jusnalistik warga. Artinya, para Pendekarwati menulis dengan menggunakan sudut pandang warga lokal (perspektif warga), tanpa meninggalkan bagasi yang berisi informasi-informasi yang didapat dari kuliah umum selama Lokakarya maupun dari disiplin ilmu masing-masing Pendekarwati. Tulisan-tulisan tersebut kemudian akan dibukukan sebagai bentuk sikap kritis terhadap persoalan manusia sebagai bagian dari lingkungan sosialnya. Hasil akhir dari Lokakarya dan Riset “Bakureh Project” akan ditampilkan pada Presentasi Publik dalam bentuk buku, foto, video, dan lain sebagainya.


Bakureh memiliki banyak arti. Namun secara garis beras, bakureh dapat diartikan sebagai “berkuli”, bekerja keras, atau bergotong royong dalam konteks “Bakureh Project”, definisi bakureh merujuk pada kegiatan gotong royong memasak untuk pesta nagari, seperti pesta pernikahan, pengangkatan penghulu, aqiqah, khatam quran, perayaan panen dan upacara kematian, yang dipimpin oleh kaum ibu dalam suatu kampung. Dalam tradisi bakureh, terdapat pula tradisi-tradisi yang sudah tertata dan diwariskan secara turun temurun. Tradisi tersebut dimulai dari cara penyampaian undangan bakureh, siapa yang diutus menjadi perwakilan masing-masing keluarga, pilihan menu berdasarkan pesta, pembagian tugas saat kegiatan bakureh, sampai cara persebaran informasi dan hal remeh temeh yang menjadi perbincangan selama kegiatan bakureh tersebut. Dalam tradisi ini juga tersimpan pendidikan kebudayaan dan adat istiadat yang kebanyakan tidak diajarkan di sekolah, seperti pendidikan kuliner Minangkabau yang lengkap dengan makna filosofisnya, adab berpakaian saat kegiatan bakureh, atau bahkan pengetahuan mengenai mitos-mitos yang berkembang di masyarakat. Tradisi-tradisi dan pendidikan ini bisa hilang begitu saja bersamaan dengan semakin menipisnya tradisi bakureh di kalangan masyarakat, karena tuntutan hidup yang ingin serba cepat dan sikap individual masyarakat yang semakin kental dan menjamur.

Dalam cakupan Kota dan Kabupaten Solok, istilah yang digunakan untuk menyebut bakureh cukup beragam, di antaranya “masak basamo”, “manolong ka dapua”, atau “manggulai cubadak”. Adab yang dikembangkan dalam kegiatan bakureh di masing-masing nagari juga beragam. Seperti misalnya dalam ruang lingkup Kota Solok, bakureh identik dengan perempuan, sementara di beberapa nagari di Kabupaten Solok, peran laki-laki tetap diperhitungkan. Perbedaan ini mungkin ada penyebabnya, yang kemudian menjadi menarik untuk dikaji lebih lanjut. Tidak hanya itu, rangkaian kegiatan sebelum dan sesudah bakureh, seperti mambantai jawi sebelum bakureh dan resepsi pesta nagari serta tradisi bararak, dirasa memiliki hubungan yang sangat erat satu dengan yang lainnya. Dalam tradisi mambantai atau menyembelih dan tradisi bararak atau arak-arakan, terdapat nilai gotong royong yang sifatnya mirip dengan tradisi bakureh, yakni memupuk silaturrahmi dan kebersamaan. Kedua tradisi tersebut memenuhi definisi awal bakureh. Namun, dalam masyarakat lokal, bakueh, mambantai dan bararak merupakan tiga hal yang berbeda dan sudah punya porsi masing-masing. Lagi-lagi, ini menjadi persoalan yang bisa dikaji lebih dalam, baik dari segi pemaknaan bakureh, maupun dari segi permasalahan manusia sebagai makhluk sosial.

Kegiatan bakureh di Nagari Kinari, Kab. Solok (dok. pribadi)
Kaum Bapak yang ikut dalam kegiatan bakureh di Nagari Kinari, Kab. Solok (dok. pribadi)

Bagi saya, dan mungkin juga bagi keenam Pendekarwati lainnya, “Bakureh Project” tidak hanya membahas aktivitas menguras tenaga kaum ibu yang menjadi bahan riset kami, tetapi juga membahas usaha “belajar”, “bekerja keras”, dan “belajar bekerja keras” kami sebagai pembelajar dan, yang diancang-ancang sebagai, peneliti kebudayaan masyarakat. Dalam kegiatan ini, kami harus mengerahkan tenaga dan pikiran, tentunya demi mencapai hasil yang memuaskan hasrat kami sebagai pembelajar dan peneliti tersebut. Kami harus berlaku profesional, sebagai “pembelajar” Daur Subur yang tugasnya mengkaji dan meneliti isu yang diberikan, dan sebagai “pekerja” Gubuak Kopi yang tugasnya mengumpulkan data yang mendukung kajian dan penelitian kami terkait isu tersebut. Saya rasa, bakureh kemudian  memiliki makna tersendiri bagi para Pendekarwati, karena tanpa sadar, kami akan bekerja sama, bergotong royong, dan bekerja keras dalam mengumpulkan informasi terkait bakureh dan isu yang menyertainya, untuk kemudian kami diskusikan sehingga bisa menjadi bahan tulisan kami masing-masing. Menariknya, bakureh dengan seketika tiba pada titik dimana ia menjadi fleksibel dan mampu melekat pada hal-hal yang bersifat gotong royong dan membutuhkan tenaga ekstra.

Suasana diskusi “Bakureh Project” di Markas Gubuak Kopi, Kota Solok (dok. Gubuak Kopi)
Lokakarya hari keempat; Materi Metode Riset bersama Albert Rahman Putra (baju biru) di Taman Bidadari, Kota Solok (dok. Gubuak Kopi)

Informasi dan perkembangan “Bakureh Project” dapat disimak di Instagram Gubuak Kopi dan situs resmi Gubuak Kopi, atau klik gambar di bawah ini.

Sementara ulasan mengenai kegiatan berdasarkan sudut pandang saya sendiri sebagai partisipan, pembelajar, peneliti sekaligus warga pendatang, bisa disimak langsung di Cerita Ponik dengan tagar Bakureh Project atau di Instagram Sayurankita.***

Iklan

2 Comments

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s