SAYURANKITA: Berkebun adalah Pendidikan.

SAYURANKITA, or completely named Sayurankita Agricultural Studies Center, is a platform initiated as a laboratory of thinking and practicing in the field of agriculture in general, which is combined with sociocultural perspectives and alternative media practices. In particular, this platform focuses on “vegetables” and “vegetable culture”, as well as their relevance to the daily life of the community. 


Begitulah yang tertulis di situs resmi Sayurankita, (https://sayurankita.com/tentang-sayurankita/). Sayurankita, sebuah proyek iseng yang kemudian mau tak mau diseriuskan ini, dicetuskan oleh Kakak saya satu-satunya, Afifah Farida Jufri. Seorang perempuan lulusan Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, yang memang mencintai dunia berkebun sejak beliau masih sekolah. Katanya, “sejak belajar biologi.”

Proyek ini kemudian kami jalankan bersama-sama. Kami di sini adalah Kakak saya dan saudara-saudaranya; saya si Bungsu dan tiga orang saudara laki-laki kami, Fauzan Hanif Jufri, Hauza Syaukani Jufri, dan Manshur Zikri. Semua punya tugasnya masing-masing sesuai bidang dan minatnya. Tentunya, tetap saling membantu dan (berusaha) mengerti satu sama lain.

Proyek iseng ini kemudian resmi diubah menjadi proyek serius sejak kami kedatangan tamu dari Jakarta. Paman dan Tante kami sendiri. Mereka memberikan lecutan kepada Kakak, yang selanjutnya mendorong kami berlima, untuk belajar serius dan fokus pada satu hal. Kami memilihi pendidikan sebagai fokus proyek kami.


Pendidikan selalu digambarkan sebagai sekolah. Pendidkan lekat dengan seragam, buku-buku tebal, dan gedung membosankan dengan guru yang berdiri di depan kelas sambil memegang penggaris panjang atau tongkat untuk menunjuk ke arah papan tulis yang berisi kalimat-kalimat dan rumus. Pendidikan selalu dikaitkan dengan uang; karena ada uang, kita bisa mendapatkan pendidikan yang lebih baik; karena mendapatkan pendidikan yang lebih baik, kita mendapat kesempatan mencari uang lebih banyak. Seketika pendidikan identik dengan uang dan sekolah itu mahal.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia tertulis jelas, bahwa pendidikan dan sekolah adalah dua hal berbeda, meskipun saling berintegrasi. Pendidikan hanyalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Pendidikan adalah sebuah proses, cara, perbuatan mendidik (kbbi daring). Tanpa embel-embel biaya, seragam, gedung yang membosankan, dan semua aturan mengekang yang tanpa sadar mampu merenggut potensi alamiah seseorang. Sekolah-lah yang memunculkan embel-embel tersebut. Sekolah, menurut KBBI, adalah 1 bangunan atau lembaga untuk belajar dan mengajar serta tempat menerima dan memberi pelajaran; 2 waktu atau pertemuan ketika murid diberi pelajaran; 3 usaha menuntut kepandaian (ilmu pengetahuan); pelajaran; pengajaran. Sekolah itu sempit, setidaknya jika kita berpedoman pada ini. Disandingkannya pendidikan dengan sekolah, menyebabkan kedua hal yang luas (seharusnya) ini, pun menjadi sempit dan pengap.

Padahal, semestinya sekolah itu seperti suatu oasis, tulis Gene Bylinsky, yang dikutip oleh Roem Topatimasang dalam bukunya Sekolah Itu Candu, 2010 (hal. 166). Ia adalah seorang wartawan lepas dan menulis “teori pendidikan”nya tersebut dalam salah satu laporannya. Topatimasang (2010:166) lalu menjelaskan makna kiasan Bylinsky, bahwa oasis yang dimaksud adalah suatu tempat teduh dan sumber air di tengah padang pasir kerontang untuk melepas lelah dan dahaga. Bylinsky, kata Roem, mencoba memberi makna sekolah sebagai suatu tempat orang-orang memuaskan dahaga keingintahuannya, mewujudkan utopia-utopia dan imnajinasi kekaryaannya, agar tidak mubazir dan sekadar fatamorgana. Teori Bylinsky ini hampir senada dengan pendapat beberapa pencetus teori pendidikan seperti Maria Montessori, Friedrich Frobel dan Jean Piaget. Bahkan, Julius Kambarage Nyerere, Bapak Bangsa dan Presiden pertama Tanzania dengan jelas menyebut sekolah sebagai kebun! Kebun dalam artian sesungguhnya. Tidak jauh beda dengan pendapat Bapak Pendidikan Nasional kita, Ki Hajar Dewantara yang menyebut sekolah sebagai taman dalam artian yang lebih luas. Teori-teori tersebut tidak menyempitkan makna sekolah dalam sekat-sekat yang mengotak-kotakkan “pendidikan”. Meski pada prakteknya, semua kembali pada pakem yang sudah mendarah daging dalam masyarakat.


Berpedoman pada makna pendidikan dan sekolah ini, Kakak dan Sayurankita mencoba menciptakan sekolah yang menyenangkanseperti apa yang kami harapkan, dan orang kebanyakan–meski tentunya tidaklah gampang. Sayurankita memulai pendidikan yang ditujukan untuk diri kami sendiri terlebih dahulu, melalui kegiatan bertani di pekarangan rumah, aktivitas membaca dan menulis, serta meluaskan wawasan dengan diskusi dan mengikuti serangkaian proyek kolaboratif dan partisipatif. 

Proyek Sayurankita kemudian dibungkus dalam suatu bentuk organisasi nirlaba terstruktur demi memudahkan kami untuk melebarkan sayap dan menyentuh lapisan masyarakat lebih dalam luas. Dalam tubuh Sayurankita, terdapat proyek-proyek berkesinambungan yang sedang dan akan dilaksanakan hingga waktu yang belum ditentukan. Upaya untuk menguatkan “kesan” pendidikan tersebut adalah dengan memproduksi dan mendistribusikan pengetahuan dan pengalaman tentang pertanian secara terbuka. Semua kalangan berhak mendapatkan pendidikan, semua orang berhak mendapat pengetahuan tentang pertanian dan pembelajaran di dalamnya.

Pengetahuan dan pengalaman yang menjadi bahan ajar dari Sayurankita disebarluaskan melalui “sekolah” yang bisa diakses siapa saja, melalui kanal media:

Kegiatan utama Sayurankita adalah berkebun dan observasi. Melakukan aktivitas mengolah lahan, menanam, merawat dan memanen. Selama proses berkebun tersebut, kami juga melakukan penelitian dan observasi tingkat dasar mengenai tanaman-tanaman yang ditanam. Selain itu juga berusaha mempelajari “perilaku” tanaman itu sendiri. Tidak jarang kami juga melakukan percobaan-percobaan berdasarkan referensi yang kami baca, pengalaman dari teman-teman berkebun, dan inisiatif yang muncul dari proses belajar, pemahaman dan pengalaman pribadi.

Teman-teman bisa ikut proyek ini. Proyek ini, tentunya, terbuka untuk siapa saja, yang mau belajar dan berproses. Mari kita sama-sama menciptakan sekolah dan pendidikan. Karena kebun adalah sekolah. Berkebun adalah pendidikan!***

Iklan

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s