Bun!

Mereka masih mengenal kita, meski kita melajukan motor secepat yang kita mampu di jalan dengan masing-masing polisi tidurnya hanya berjarak 4-5 meter satu sama lain. Mereka masih meneriakkan sebutan yang membuat hati kita terenyuh setiap kali kita mendengarnya; ya, sejak kejadian itu, panggilan itu tak lagi sejuk di pendengaran kita. Kita tak lagi merasa pantas … Lanjutkan membaca Bun!

Dear me,

Kita masih di ayunan yang sama,tidak apa. Jangan khawatir. Ini bagian dari proses;sebab di atas ayunan ini, kita bermaintidak lagi seperti kemarin.Kita sudah tahu bagaimana cara mengayunnya,dengan lembut, dengan perhitungan.Meski sesekali masih oleng,lalu terjatuh. Tapi kita tidak terjatuh seperti kemarin;tidak ada luka sobek yang dalam,tidak ada memar yang lebam. Kita masih di ayunan yang sama,kita … Lanjutkan membaca Dear me,

Namanya Tiara

Waktu kita memutuskan untuk mengajar di TPA, kita tidak membayangkan apa pun kecuali duduk mendengar bacaan anak-anak sambil membetulkan bacaan mereka yang salah, semampu kita. Tidak ada ekspektasi tinggi, kecuali sebuah harapan bahwa kita bisa pula belajar sesuatu dari para guru-guru kecil itu. Alhamdulillaah, harapan itu dijawab hampir di setiap pertemuan. Kita belajar lagi hal-hal … Lanjutkan membaca Namanya Tiara

Aditya

Seperti biasanya. Tidak ada ingatan untuk pertemuan pertama. Yang kita ingat hanyalah malam saat kali pertama mereka semua duduk manis di hadapan kita, meminta diajarkan membaca Al-Qur’an. Aditya namanya. Salah seorang dari mereka, yang berbadan paling tinggi. Yang ternyata, juga, yang paling tua. Dia yang protes ketika semua anak laki-laki itu memanggil kita “Bunda”. Tidak … Lanjutkan membaca Aditya

Bun,

Beberapa tahun lalu, kita sudah pernah membahasnya. Tentang bagaimana kedekatan kita dengannya. Bagaimana sejarah merekam asal mula dia kita panggil “Bunda”. Sudah pernah juga kita bahas bagaimana dia seperti mengerti kita seutuhnya meski kita hanya melempar isak tangis tanpa kata. Malam ini, kita kembali menjawab rindu yang menggema sejak beberapa waktu lalu. Sebab, qadarullaah, bertepatan … Lanjutkan membaca Bun,

Begin Again

Menjelang setahun. Tidak apa-apa, kita hanya masih mencari waktu yang tepat. Tidak apa-apa kalau belum ketemu. Tidak perlu bersedih. Tidak perlu khawatir. Kita sudah membuktikan, kan, bahwa semuanya butuh waktu? Dalam rentang waktu itu, sedikit banyak kita berprogres. Jadi, jangan lagi khawatir. Jangan lagi risau. Toh, kita ternyata baik-baik saja. Dan Insyaa Allaah akan terus … Lanjutkan membaca Begin Again